jump to navigation

Tips Pola Makanan Mengatasi Depresi Maret 22, 2010

Posted by pea in Tulisan Ringan.
Tags: , , , ,
trackback

Makanan yang kaya akan asam lemak omega-3, seperti kacang-kacangan serta minyak ikan misalnya ikan salmon, ikan tuna, trout, dan makarel, juga dinilai bermanfaat untuk mengurangi depresi. Penelitian Dr. Andrew Stoll pada tahun 1999 menunjukkan bahwa pasien depresi yang mengonsumsi asam lemak omega-3-secara teratur akan memiliki tingkat depresi yang lebih rendah.

Joseph Hibbeln, seorang peneliti medis senior, menemukan bahwa penduduk Finlandia yang mengonsumsi ikan laut minimal dua kali seminggu mengalami penurunan risiko depresi sebesar 50 persen.

Makan nasi juga dapat mengurangi depresi. Karbohidrat memicu lepasnya hormon insulin ke aliran darah untuk membersihkan darah dari asam amino yang merupakan cikal bakal Serotonin.

Serotonin yang banyak terdapat pada cokelat mampu mengurangi rasa nyeri, mengendalikan selera makan, dan memberikan rasa tenang.

Dikota – kota besar diseluruh dunia angka depresi setiap tahun cenderung meningkat. Berbagai tekanan dalam kehidupan ini, dapat menjadi pemicu depresi. Dr. Suryo Dharmono, Sp.KJ, dari Departemen Psikiatri FKUI, memaparkan bahwa depresi sering dipakai secara luas untuk menggambarkan suasana serba susah, penderitaan berkepanjangan, krisis kehidupan, keterpurukan sosial, dan berbagai situasi bernuansa muram lainnya.

Gangguan Tidur

Istilah depresi dalam ilmu kesehatan jiwa digambarkan dalam suatu kondisi gangguan jiwa yang secara klinis tampil dalam bentuk suasana perasaan murung, kehilangan gairah hidup, lesu, pesimis atau putus asa, serta kehilangan rasa percaya diri, disertai berbagai keluhan fisik atau somatis, seperti berat badan turun, disfungsi seksual, dan gangguan tidur.


Depresi adalah gangguan jiwa yang paling lazim dijumpai di masyarakat. Prevalensinya cukup tinggi, berkisar 5-10 persen, kejadian pada perempuan dua kali lebih banyak daripada pria. Kelompok remaja dan usia lanjut lebih rentan menderita depresi.

Survei Badan Kesehatan Dunia (WHO) di 14 negara (1990) memperlihatkan bahwa depresi merupakan masalah kesehatan yang mengakibatkan beban sosial nomor empat terbesar di dunia. Prediksi WHO tentang penderita depresi penduduk dunia dalam dua dekade mendatang lebih dari 300 juta orang. Pada tahun 2020 depresi akan menempati masalah kesehatan nomor dua terbesar di dunia setelah penyakit kardiovaskular.

Orang yang mengalami depresi dapat digolongkan dalam depresi ringan dan berat. Dr. Irmansyah, Sp.KJ, dari Departemen Psikiatri FKUI menyatakan bahwa orang dengan depresi ringan masih tetap bisa bekerja. Namun, jika orang tersebut menderita depresi berat, biasanya ia lebih senang mengurung diri, tidak bisa bekerja atau sekolah, tidak bisa makan, tidak melakukan aktivitas apa-apa, bahkan timbul gejala psikotik seperti suara-suara yang menjelekkan dirinya.

Depresi bahkan dapat dialami oleh anak-anak. Tuntutan sekolah yang demikian tinggi dan keluarga yang berantakan, seringkali menjadi pemicunya. Dari penelitian yang dilakukan terhadap 39.000 orang, ditemukan bahwa kemurungan, kelesuan yang melumpuhkan, rasa ditolak, keputusasaan, dan keinginan bunuh diri, belakangan ini dialami masyarakat pada rentang usia yang semakin muda.

Makanan Antidepresi

Apa hubungan depresi dengan makanan? Orang yang dalam keadaan depresi cenderung mempunyai kadar adrenalin lebih tinggi dibandingkan orang biasa. Adrenalin akan memberikan tambahan energi untuk mengatasi persoalan yang dihadapi. Meningkatnya kadar adrenalin akan memakai zat gizi yang disimpan di dalam tubuh kita.

Tingginya tingkat depresi akan menghabiskan persediaan zat gizi dan meninggalkan sedikit sisa untuk keperluan tenaga sehari – hari. Itulah sebabnya orang yang depresi mudah sekali mengalami kelelahan. Peran makanan untuk membantu seseorang mencegah dan mengatasi depresi sangat penting. Banyak orang ketika mengalami frustrasi, selera makannya meningkat.

Hal itu berdampak cukup baik karena kebutuhan energi dan gizi orang yang mengalami depresi jauh lebih tinggi. Selain itu, beberapa jenis makanan dikenal dapat memengaruhi fungsi otak, yang disebut neurotransmitter. Itulah sebabnya beberapa jenis makanan dapat menyebabkan perasaan menjadi lebih tenang dan mengurangi depresi.

Lalu, makanan seperti apa yang baik bagi penderita depresi?

Vitamin dan Mineral

Makanan yang direkomendasikan untuk penderita depresi antara lain buah-buahan, sayuran hijau, susu, kacang-kacangan, dan ikan.

Buah-buahan dan sayur-sayuran vitamin C. Sebuah penelitiara di Amerika pada sejumlah narapidana menunjukkan bahwa tekanan emosional mereka berkurang setelah diberi asupan vitamin C secara teratur yang dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang berkurang akibat depresi. Ketika depresi sebaiknya kurangi kebiasaan merokok. Konsumsi 1,5 bungkus rokok akan mengurangi asupan vitamin C tubuh hingga 30 persen.

Kandungan asam folat di dalam sayuran seperti bayam, kubis, brokoli, kacang – kacangan mampu menurunkan kadar homosistein yang dihubungkan dengan kejadian depresi. Zat gizi seperti niasin dan selenium juga dapat membantu mengatasi depresi. Niasin merupakan salah satu vitamin B kompleks yang dapat memperbaiki fungsi sel saraf, sehingga mengurangi rasa cemas atau panik. Sumber niasin adalah beras merah, ayam, tuna, daging kambing, gandum, dan buah delima.

Kekurangan selenium membuat seseorang mudah cemas, uring-uringan dan depresif. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka cukup mengonsumsi kacang-kacangan, tuna, gandum, atau beras. Mineral lain yang berfungsi penting mengatasi gangguan kecemasan dan depresi adalah magnesium. Mekanismenya melalui pengurangan ketegangan otot. Magnesium bisa didapat dari bayam, cokelat, biji labu, biji bunga matahari, kerang, dan alpukat.

Alkohol Sebabkan Halusinasi

Alkohol dapat bekerja sebagai obat penenang atau depresan. Namun, efek kronis alkohol dapat menyebabkan depresi tingkat berat.

Alkohol diserap langsung oleh usus halus dan dapat mencapai sel otak, akibatnya komunikasi dalam sel otak menjadi buruk dan kita jadi sulit konsentrasi. Ketergantungan terhadap alkohol dalam jangka panjang dapat mengubah fungsi jiwa, sehingga orang mudah mengalami halusinasi. Alkohol dapat memperlambat produksi enzim yang diperlukan untuk mencerna makanan, terutama lemak.

Alkohol juga menghabiskan persediaan vitamin C, asam folat, vitamin B kompleks lainnya, zat seng, dan vitamin A dalam tubuh. Alkohol memperberat kerja hati untuk bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Satu gelas minuman beralkohol sesekali memang dapat digunakan untuk menenangkan perasaan dan meningkatkan selera makan. Namun, kebiasaan minum alkohol dalam jumlah banyak dapat membahayakan kemampuan tubuh untuk mengurangi stres.

Batasi Kafein dan Minuman Ringan

Menghindari makanan yang mengandung kafein. Kafein ditemukan dalam kopi, teh, minuman kola, cokelat, dan beberapa obat. Kafein berlebih berdampak negatif terhadap stres, bahkan dapat membuat stres semakin buruk.

Kafein adalah zat perangsang yang meningkatkan pengeluaran asam lambung dan hormon tiroid yang dapat menimbulkan kegelisahan. Kafein juga menyebabkan ginjal bekerja lebih keras untuk bertindak sebagai diuretik (menyebabkan sering buang air kecil).

Orang sering mengonsumsi kafein untuk menambah tenaga secara cepat. Ini adalah pandangah yang keliru karena sebenarnya kafein meletihkan kelenjar adrenalin dan akhirnya akan membawa efek yang melelahkan.

Hindari juga minuman ringan. Minuman ringan mengandung fosfor yang juga dapat menetralkan asam hidroklorida di dalam lambung. Akibatnya, pencernaan dapat terganggu yang akhirnya memperparah tingkat depresi.

Hindari pula makanan yang mengandung bahan pengawet dan bahan ber-MSG (peningkat cita rasa) tinggi. Konsumsi makanan yang mengandung MSG dan natrium tinggi dapat memicu hipertensi dan membuat orang sulit untuk berpikir jernih.

Dalam kondisi depresi, gangguan lambung seringkali terjadi. Hal ini mengindikasikan bahwa saluran pencernaan memang perlu lebih diperhatikan ketika kita sedang mengalami gangguan emosional. Karena itu, makanan-makanan yang berpotensi mendatangkan iritasi lambung sebaiknya dikurangi seperti makanan berlemak tinggi, makanan pedas, makanan asam (acar dan buah muda), serta daging setengah matang.

Konsumsi makanan yang manis-manis (bergula) tinggi sebaiknya dihindari. Konsumsi makanan manis akan menghabiskan vitamin B kompleks dalam tubuh karena konversi gula menjadi energi membutuhkan kehadiran vitamin B. Orang-orang yang menderita defisiensi vitamin B1 akan mengalami gangguan sistem saraf dan memunculkan gejala-gejala kelelahan dan mudah terusik.

Sumber :http://www.solusisehat.net

%d blogger menyukai ini: