jump to navigation

Dalihan Na Tolu Maret 19, 2010

Posted by pea in Batak.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
trackback

Dalihan Natolu merupakan sistem kekerabatan dan melambangkan sikap hidup suku batak. Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam tiga (3) posisi yang disebut Dalihan Natolu atau Tolu Sahundulan. Secara letterlijk, pengertian Dalihan Natolu adalah satuan tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut Dalihan.

Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital. Karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga. Tungku digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas Dalihan Natolu kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk. Untuk mensejajarkannya, digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut Sihal-sihal. Apabila sudah pas letaknya, maka siap untuk memasak.

Tiga posisi dalam sistim kekerabatan Dalihan Natolu adalah :

1. Dongan Tubu
Dongan Tubu yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: teman/saudara semarga. Prinsip hubungannya adalah Manat Mardongan Tubu, artinya Hati – hati menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.

2. HULA HULA atau TONDONG,
Hula – Hula atau Tondong yaitu kelompok orang yang berasal dari keluarga marga pihak istri. Relasinya disebut Somba Marhula – hula yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri. Hula – Hula dapat juga berarti orang tua dari wanita yang dinikahi oleh seorang pria. Secara umum semua saudara dari pihak wanita yang dinikahi oleh seorang pria dapat disebut hula-hula.
Somba Marhula-hula artinya seorang pria harus menghormati keluarga pihak istrinya. Dasar utama dari filosofi ini adalah bahwa dari pihak marga istri lah seseorang memperoleh “berkat” yang sangat didominasi oleh peran seorang istri dalam keluarga. Berkat Hagabeon berupa garis keturunan, Hamoraon karena kemampuan dan kemauan istri dalam mengelola keuangan bahkan tidak jarang lebih ulet dari suaminya, dan dalam Hasangapon pun peran itu tidak kurang pentingnya.

3. BORU
Boru yaitu kelompok orang yang berasal dari saudara perempuan dan pihak marga suaminya juga keluarga perempuan dari pihak ayah. Secara luas boru adalah anak perempuan dari suatu marga. Prinsip hubungan nya adalah Elek Marboru artinya harus dapat merangkul boru, sabar dan tanggap. Dalam kesehariannya, Boru bertugas untuk mendukung / membantu bahkan merupakan tangan kanan dari Hula – hula dalam melakukan suatu kegiatan.

Falsafah Dalihan Natolu dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak dan dari penjelasan – penjelasan di atas, falsafah dari Dalihan Natolu adalah :

Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.

Dalihan Natolu ini menjadi pedoman hidup orang batak dalam kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi Dalihan Natolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut. Dengan Dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status social seseorang.

%d blogger menyukai ini: