jump to navigation

Cinta dan Kaul Februari 12, 2010

Posted by pea in Mother Teresa.
Tags: , , , , , ,
trackback

Kalau aku menjadi orang suci, pastilah aku salah satu orang suci untuk “dunia gelap”. Aku akan terus – terusan absen dari surga, untuk menerangi mereka yang kegelapan di bumi

Saya hanya alat-Nya, mengapa peduli soal saya, sementara semua ini karya-Nya. Saya tidak berani mengakui itu karya saya, itu diberikan kepada saya.

Memohonlah kepada Yesus untuk membuat saya tidak bisa menolak apa pun permintaan-Nya, sekecil apa pun, saya rasanya lebih baik mati.

Saya telah bersumpah dihadapan Tuhan, yang akan menjadi dosa besar jika saya melanggarnya, untuk memberikan kepada Tuhan apa pun yang bisa Ia kehendaki, untuk tidak menolak apa pun yang Ia minta

Saya ingin memberikan kepada Tuhan sesuatu yang sangat indah dan melakukannya tanpa ragu

Tuhan telah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Jika Tuhan yang tidak berhutang sedikit pun kepada kita, siap memberikan diri-Nya kepada kita, akan kah kita menanggapi dengan sebagian diri kita ?

Untuk memiliki Tuhan, kita harus membolehkan Tuhan memiliki jiwa kita.

Salah satu paradoks cinta sejati adalah sang pecinta dengan kehendak bebasnya sendiri, memilih mengikatkan diri tanpa pamrih kepada yang di cintai

Saya dengan sadar bersumpah dan mengikatkan diri dalam penderitaan para pendosa berat supaya Yesus tidak usah berkorban, sebagaimana jelas saya lihat bahwa Ia minta itu dari saya.

%d blogger menyukai ini: