jump to navigation

Pergeseran Adat Batak Toba Februari 10, 2010

Posted by pea in Batak.
Tags: , , , ,
trackback

by Drs. Brisman Silaban, MSi

Adat sebagai bahagian dari kebudayaan elemen untuk mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan merupakan identitas budaya dalam khasanah kebhinekaan. Adat di dalam implementasinya berfungsi menciptakan dan memelihara keteraturan yang diharapkan tercapai keharmonisan hubungan secara Horizontal sesama warga dan hubungan vertikal kepada Tuhan.

Pada saat sekarang ini banyak hal yang dapat menimbulkan ketegangan dan perbedaan pendapat dalam setiap pelaksanaan adat Batak Toba. Kenapa hal ini bisa terjadi? Beberapa hal menyebabkannya seperti faktor agama, kemajemukan asal dan etnis dalam suatu daerah, defuse adat yaitu percampuran adat antar etnis, pengaruh era globalisasi dan lain-lain.

Raja Patik Tampubolon mengelompokkan pergeseran adat itu dalam 3 bahagian dan diimplementasikan oleh DR. AB Sinaga dalam tiga species dalam pelaksanaan adat tersebut yaitu :

  1. Adat Inti
  2. Adat na Taradat
  3. Adat na Niadathon
  4. Adat na Soadat.

Untuk menghindarkan ketegangan dan beda pendapat tersebut warga batak melakukan mufakat untuk melakukan adat yang akan dilaksanakan dalam suatu upacara adat. Pembahasan kali ini hanya akan mencakup Adat Inti dan Adat na Taradat.

A. Adat Inti

Adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Debata Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni

  1. Tongka atau terlarang,
  2. Unang atau Jangan
  3. Naso Jadi atau tak patut.

Dengan demikian, Adat Inti mutlak harus dituruti dan dilaksanakan sebagai undang-undang, adat dan hukum dalam kehidupan, seperti yang ditegaskan dalam ungkapan “Adat do ugari, Sinihathon ni Mulajadi, Siradotan manipat ari, Siulahonon di siulu balang ari” yang mana artinya adalah “Adat adalah aturan yang ditetapkan oleh Tuhan Pencipta, yang harus dituruti sepanjang hari dan tampak dalam kehidupan”. Sifat adat inti adalah primer dalam artian mendahului dan konsitutif terhadap yang lain yang mengemban muatan etis normatif dan kemutlakan serta konservatif atau tidak berubah. Pelaksanaan Adat Inti tidak boleh dimufakati untuk merubah dalam upacara adat karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan oleh Debata Mula Jadi Nabolon. Misalnya menentukan hari pelaksanaan upacara adat Maniti Ari, menentukan media dan adat yang akan digunakan, menentukan Gondang Sabangunan atau Uning-uningan, dalam pelaksanaan adat inti, dan banyak lagi norma-norma yang mutlak harus ditaati dan dipenuhi sejak merencanakan kegiatan, hari pelaksanaan dan sesudah upacara adat.

Karena adat inti bersifat mutlak dan konservatif serta mengemban muatan etis normatif pelaksanaannya tidak bisa diubah. Misalnya, acara adat Sari Matua tidak bisa diubah menjadi acara adat saur matua dan lain-lain. Pelanggaran terhadap adat inti sebagai Patik (Undang – undang) dan Uhum (Hukum) adalah soal hidup atau mati, melanggar dan merubahnya adalah dosa berat yang mengakibatkan kebinasaan.

Dengan uraian tentang adat inti di atas maka banyak warga batak yang pada saat sekarang sudah tidak melaksanakannya karena pengaruh Agama dan ini merupakan pergeseran pelaksanaan adat.

B. Adat na taradat

Adat na taradat adalah undang-undang dan kelaziman yang mendapatkan pengaruh oleh suatu perkumpulan, tempat tinggal di daerah perantauan dan juga oleh Agama yang telah dimufakati bersama sebelum pelaksanaan upacara adat. Ciri khas dari adat na taradat ini adalah Pragmatisme dan Fleksibilitas dan bersifat adaptatif, menerima pergeseran dari adat inti. Dalam pelaksanaannya adat na taradat sangat akomodatif dan lugas untuk menerima pengaruh daerah manapun sehingga luput dari kekakuan dan kegamangan adat inti yang stagnasi dan konservatisme dengan berpedoman kepada ungkapan folklor Batak Toba yaitu “Tuat ma na di dolok martungkot siala gundi, Napinungka ni ompunta na parjolo, Tapa uli-uli sian pudi” yang artinya “Turunlah yang di bukit bertongkat siala gundi, yang sudah dimulai leluhur kita terdahulu, kita perbaiki dari belakang”

Ungkapan ini menunjukkan permufakatan pergeseran pelaksanaan adapt dan hal ini lah yang sering menimbulkan perdebatan di kalangan tokoh-tokoh adat (raja parhata) dan pelaku-pelaku adat. Perdebatan ini sering terjadi dengan suara yang kuat khas Batak Toba antara kelompok yang seperti setia dengan adat inti dengan kelompok yang ingin perubahan oleh sesuatu hal. Lalu perdebatan diredakan dengan beberapa ungkapan (umpama dan umpas) yang menimbulkan permufakatan untuk pelaksanaan upacara adat dengan menerima pergeseran dan perubahan antara lain :

  1. Aek godang tu aek laut, Dos ni roha do sibahen na saut
  2. Nangkok si puti tuat si deak, Ia i na ummuli ima tapareak

Oleh karena permufakatan untuk pergeseran pelaksanaan adat itu, hampir pada semua upacara adat Batak Toba terjadi perubahan. Misalnya pada upacara perkawinan, sistematika atau urut-urutan tata cara perkawinan sering tidak dilaksanakan lagi mulai dari :

  1. Marhori-hori dinding
  2. Marhusip
  3. Marhata sinamot
  4. Sibuha-buhai
  5. Mangan juhut
  6. Paulak une
  7. Maningkir tangga.

Secara garis besar demikianlah sistematika pelaksanaan upacara adat perkawinan Batak Toba pada adat inti. Namun pada saat sekarang dengan permufakatan banyak yang diubah antara lain : Marhori-hori dinding tidak lagi suatu keharusan dilaksanakan, Marhusip yang biasa tidak dihadiri orang tua si anak yang akan dikawinkan, pada saat sekarang justru orang tua si anak yang akan dikawinkan itulah yang memegang peranan dalam acara marhusip. Marhata sinamot hanyalah formalitas sekedar mengumumkan apa yang telah dibicarakan pada acara marhusip, acara marhata sinamot ini pun masih ada sandiwara (pura-pura) menetapkan besar sinamot yang akan diberikan. Jumlah ulos yang harus diterima oleh pihak paranak (pengantin laki-laki) tidak jelas acuannya boleh jadi dari 7 (tujuh) helai sampai 800 (delapan ratus) helai. Paulak une dan maningkir tangga adalah suatu skenario sandiwara upacara adat dalam permufakatan ulaon sadari (diselesaikan dalam satu hari).

Demikian halnya pada upacara adat kematian status seseorang yang Hasuhutan (Meninggal) bisa diubah dengan permufakatan sesuai dengan permintaan keluarga yang meninggal. Para tokoh adat dan seluruh sanak famili yang masuk ke dalam sistem kekerabatan akan mengalah apabila Hasuhuton meminta status yang meninggal dari status Mangido Tangiang “Seseorang yang meninggal pada saat meninggal belum ada anaknya, yang sudah berkeluarga atau sudah ada yang kawin tetapi belum mempunyai cucu dari anak laki-laki dan anak perempuan”, diubah status kematiannya menjadi Sari Matua status ini yang menurut adat inti diberikan kepada “seseorang yang saat meninggal sudah ada anak laki-laki dan anak perempuan yang sudah berkeluarga dan sudah mempunyai cucu dari anak-anaknya tersebut tapi masih ada yang belum berkeluarga (adong sisarihononhon)”

Ada juga Hasuhuton meminta agar orang tuanya yang meninggal diubah status kematiannya dari Sari Matua menjadi Saur Matua yang menurut adat inti adalah apabila seseorang saat meninggal mempunyai keturunan laki-laki dan perempuan sudah berkeluarga semua dan dari setiap anak-anaknya yang sudah berkeluarga telah memiliki cucu.”Ada juga hasuhuton yang meminta status kematian orang tuanya diubah dari status Saur Matua menjadi Mauli Bulung dimana menurut adat inti dilaksanakan apabila “seseorang pada saat meninggal meninggalkan keturunannya cucunya telah memiliki cucu dari anak laki-laki dan perempuan atau sudah mempunyai nini dan nono (cicit)”.

Pada upacara adat pemberian ulos tondi pada anak yang sedang hamil 7 bulan diubah menjadi pemberian ulos mula gabe. Substansi pemberian ulos diubah menjadi mendoakan anak agar tetap sehat-sehat demikian juga anak yang akan dilahirkan diberikan Tuhan kesehatan. Demikian halnya pada kegiatan upacara adat lainnya
perubahan dan pergeseran itu sudah terjadi seperti tata upacara adat, memasuki rumah, menggali tulang belulang, mengambil nama (mampe goar) dan lain-lain

%d blogger menyukai ini: