jump to navigation

Pengobatan III Februari 3, 2010

Posted by pea in Batak.
trackback

Proses Penyucian :

Dalam proses ini si Pasien dimandikan dengan jeruk purut agar bersih dari segala jenis kotoran, baik dalam badan maupun batin dan darah.

Proses membangkitkan aura atau kekuatan darah :

Dalam proses ini segala energi organ tubuh dibangkitkan dengan cara berdoa dan mengisi kesaktian

Proses memberi perlindungan :

Dalam proses ini si-pasien di bungkus dengan kain tiga warna dengan tujuan agar si-pasien tersebut terbungkus dalam hulambu jati kebijakan, keimanan, sebab manusia yang terbungkus segala niat jahat seseorang tidak akan kesampaian lagi.

Proses Pengukuhan I :

Dalam proses ini si pasien diberi makan sesajen berupa : ayam, anggir, air putih dan nasi putih. Sesajen ini diberikan dengan tujuan agar badan dan roh menyatu bersama kekuatan benua atas, benua bawah dan benua tengah menyatu dengan diri sendiri.

Proses Pengukuhan II :

Dalam proses ini si-pasien di mandikan ke dalam air pancuran atau air terjun dengan tujuan tahap penyatuan kekuatan benua atas, benua tengah dan benua bawah.

Pengobatan dengan barang pusaka

Siraja Purba mempunyai beberapa pusaka yang dinilai dengan cara petunjuk beserta legenda, pusaka-pusaka ini sangat erat hubungannya dalam kehidupan sehari-hari pada masa lampau sesuai dengan maksud dan tujuan masing-masing pusaka tersebut.

Adapun pusaka tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Solam Mulajadi atau dikenal dengan Pisau Mulajadi adalah pisau yang dibawa Debata Asi-asi dari banua ginjang (Benua atas). Pisau ini adalah himpunan seluruh pengetahuan orang batak, sebab pisau ini berisi aksara batak 19+7 pengetahuan.
  2. Piso Sipitu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung terdapat 7 buah pisau di dalamnya yang melambangkan Tujuh Kekuatan yang dibawah oleh Putri Kayangan dari Banua Ginjang untuk bekal hidup Siraja Batak yang baru.
  3. Piso Silima Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung terdapat 5 buah mata pisaudi dalamnya. Di dalam pisau ini berisikan kehidupan manusia, dimana menurut orang batak manusia lahir kedunia ini mempunyai 4 roh, kelima badan (wujud). Maka dalam ilmu meditasi untuk mendekatkan diri kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) harus lebih dulu menyatukan 4 roh, kelima badan.
  4. Piso Sitolu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung ada 3 buah mata pisau. Pisau ini melambangkan kehidupan orang batak yang menyatu dengan benua atas, benua tengah dan benua bawah. Pisau ini juga melambangkan Batara Guru dengan kebijakan, Batara Sori dengan keimanan & kebenaran dan Batara Bulan dengan kekuatan agar tetap menyertai orang batak dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Piso Siseat Anggir digunakan pada saat membuat obat atau ilmu
  6. Sunggul Sohuturon terbuat dari rotan yang di anyam berbentuk keranjang sunggul, bertujuan untuk memanggil roh manusia yang lari atau roh yang diambil oleh keramat.
  7. Pukkor Anggir digunakan untuk menusuk anggir dan mendoakannya, sebelum anggir di potong
  8. Tutu bertujuan untuk menggiling ramuan-ramuan obat yang hendak digunakan pada orang sakit.
  9. Sahang terbuat dari gading gajah, digunakan untuk tempat obat yang mampu mengobati segala jenis penyakit manusia.
  10. Gupak biasanya digunakan untuk memotong obat yang jenisnya keras seperti akar-akaran, kayu-kayuan dan lain-lain.
  11. Tukkot Tunggal Panaluan adalah tongkat sakti siraja batak yang diukir dari kejadian yang sebenarnya, yang merupakan kesatuan kesaktian benua atas, benua tengah dan benua bawah. Akan diceritakan secara khusus mengenai Tukkot Tunggal Panaluan
  12. Piso Halasan adalah pedang sakti yang berisikan kekuatan doa agar manusia yang belum mempunyai keturunan menjadi mempunyai keturunan sekaligus mendatangkan rejeki dalam kehidupan.
  13. Piso Tobbuk Lada biasa digunakan untuk memotong dan mengiris ramuan obat.
  14. Hujur Siringis adalah sebuah tombak sakti yang biasa digunakan para panglima perang.
  15. Tukkot Sitonggo Mual adalah Tongkat sakti Siraja Batak yang mana pada zaman dulu dalam perjalanan apabila air tidak ada jika tongkat ini ditancapkan ke tanah maka mata air akan keluar.
  16. Piso Solam Debata adalah sebuah pisau kecil Siraja Batak yang biasa dipakai oleh seorang Raja dan apabila dia berbicara atau memerintah, maka semua manusia akan menurut. Pisau ini hanya dipakai oleh seorang raja.
  17. Piso Gaja Doppak adalah pisau pedang seorang raja yang mana apabila pisau ini dipakai, maka segala penghambat didepan, disamping maupun dibelakang akan jauh. Biasanya pisau ini dipakai oleh Raja pada saat berjalan atau keluar daerah.

Asal Mula Tongkat Tunggal Panaluan :

Pada suatu hari Raja Panggana yang terkenal pandai memahat dan mengukir mengadakan pengembaraan keliling negeri. Untuk biaya hidupnya, Raja Panggana sering memenuhi permintaan penduduk untuk memahat patung atau mengukir rumah. Walaupun sudah banyak negeri yang dilaluinya dan sudah banyak patung dan ukiran yang dikerjakannya, tapi masih terasa padanya sesuatu kekurangan yang membuat dirinya selalu gelisah. Untuk menghilangkan kegelisahannya, ia hendak mengasingkan diri pada satu tempat yang sunyi. Di dalam perjalanan di padang belantara yang penuh dengan alang-alang ia sangat tertarik pada sebatang pohon tunggal, dimana pohon tersebut hanya satu – satunya pohon yang terdapat pada padang belantara tersebut. Melihat sebatang pohon tunggal itu Raja Panggana tertegun. Diperhatikannya dahan pohon itu, ranting dan daunnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Raja Panggana, Ia melihat pohon itu seperti putri menari. Dikeluarkannya alat-alatnya, dan mulai bekerja memahat pohon itu menjadi patung seorang putri yang sedang menari. Sebagai seorang seniman, Ia sangat dan baru karya ini lah yang membuat ia kagum, Ia mengagumi hasil kerjanya yang begitu cantik dan mempesona. Seolah-olah dunia ini telah menjadi miliknya. Makin dipandangnya hasil kerjanya, semakin terasa pada dirinya suatu keagungan. Pada pandangan yang demikian, ia melihat patung putri itu mengajaknya untuk menari bersama. Ia menari bersama patung dipadang belantara yang sunyi tiada orang. Demikianlah kerja Raja Panggana hari demi hari bersama putri yang diciptakannya dari sebatang kayu. Raja Panggana merasa senang dan bahagia bersama patung putrid yang diukirnya sendiri. Tetapi apa hendak dikata, persediaan makanan Raja Panggana semakin habis. Lalu piker Raja Panggana “Apakah gunanya saya tetap bersama patung ini, kalau tidak makan ?” Dan Raja Panggana, menari sepuasnya dengan patung itu untuk terakhir kalinya sebelum dia kembali. Demikian Raja Panggana dengan penuh haru meninggalkan patung itu. dipadang rumput yang sunyi sepi tiada berkawan. Raja Panggana sudah menganggap patung putri itu sebagian dari hidupnya.

Berselang beberapa hari kemudian, seorang pedagang kain dan hiasan berlalu dari tempat itu. Baoa Partigatiga demikian nama pedagang itu tertegun melihat kecantikan dan gerak sikap tari patung putri itu. Alangkah cantiknya si patung ini apabila saya beri berpakaian dan perhiasan. Baoa Partigatiga membuka kain dagangannya. Dipilihnya pakaian dan perhiasan yang cantik dan dipakaikannya kepada patung itu sepuas hatinya.

Baoa Partigatiga belum pernah melihat patung ataupun manusia secantik itu. dipandanginya patung tadi seolah-olah ia melihat patung itu mengajaknya menari. Menarilah Baoa Partigatiga mengelilingi patung sepuas hatinya. Setelah puas menari ia berusaha membawa patung itu dengannya tetapi tidak dapat, karena hari sudah makin gelap. Baoa Partigatiga berpikir kalau patung ini tidak kubawa biarlah pakaian dan perhiasan ini kutanggalkan. Tetapi apa yang terjadi, pakaian dan perhiasan tidak dapat ditanggalkan Baoa Partigatiga. Makin dicoba kain dan perhiasan makin ketat melekat pada patung. Baoa Partigatiga berpikir, biarlah demikian. Untuk kepuasan hatiku baiklah aku menari sepuas hatiku untuk terakhir kali dengan patung ini. Iapun menari dengan sepuas hatinya. Ditinggalkannya patung itu dengan penuh haru ditempat yang sunyi dan sepi dipadang rumput tiada berkawam.

Entah apa yang mendorong, entah siapa yang menyuruh seorang dukun perkasa yang tiada bandingannya di negeri itu berlalu dari padang rumput tempat patung tengah menari. Datu Partawar demikian nama dukun itu terpesona melihat patung itu. Datu Partawar berpikir bahwa alangkah indahnya patung ini apabila bernyawa. Sudah banyak negeri kujalani, belum pernah melihat patung ataupun manusia secantik ini. Datu Partawar berpikir mungkin ini suatu takdir. Banyak sudah orang yang kuobati dan sembuh dari penyakit. Itu semua dapat kulakukan berkat Yang Maha Kuasa. Banyak cobaan pada diriku diperjalanan malahan segala aji-aji orang dapat dilumpuhkan bukan karena aku, tetapi karena ia Yang Maha Agung yang memberikan tawar ini kepadaku. Tidak salah kiranya apabila saya menyembah Dia Yang Maha Agung dengan tawar yang diberikannya padaku, agar berhasil membuat patung ini bernyawa. Dengan tekad Datu Partawar menyembah menengadah keatas dengan mantra, lalu menyapukan tawar yang ada pada tangannya kepada patung. Tiba-tiba halilintar berbunyi menerpa patung. Sekitar patung diselimuti embun putih penuh cahaya. Waktu embun putih berangsur hilang nampaklah seorang putri jelita datang bersujud menyembah Datu Partawar. Datu Partawar menarik tangan putrid itu, mencium keningnya lalu berkata “Mulai saat ini kau kuberi nama Putri Naimanggale”. Kemudian Datu Partawar mengajak Putri Naimanggale pulang kerumahnya.

Kecantikan Putri Naimanggale tersiar ke seluruh negeri. Para perjaka menghias diri lalu bertandang ke rumah Putri Naimanggale. Banyak sudah pemuda yang datang tetapi belum ada yang berkenan pada hati Putri Naimanggale. Berita kecantikan Putri Naimenggale sampai pula ketelinga Raja Panggana dan Baoa Partigatiga. Alangkah terkejutnya Raja Panggana setelah melihat Putri Naimanggale teringat akan sebatang kayu yang dipahat menjadi patung manusia. Demikian pula Baoa Partigatiga sangat heran melihat kain dan hiasan yang dipakai Putri Naimanggale adalah pakaian yang dikenakannya kepada Patung, Putri dipadang rumput. Baoa Partigatiga mendekati Putri Naimanggale dan meminta pakaian dan hiasan itu kembali tetapi tidak dapat karena tetap melekat di Badan Putri Naimanggale. Karena pakaian dan hiasan itu tidak dapat terbuka lalu Baoa Partigatiga menyatakan bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. Raja Panggana menolak malahan balik menuntut Putri Naimanggale adalah miliknya karena dialah yang memahatnya dari sebatang kayu.

Saat itu pula muncullah Datu Partawar dan tetap berpendapat bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. “Apalah arti patung dan kain kalau tidak bernyawa. Sayalah yang membuat nyawanya” kataDatu Partawar. Raja Panggana membantah “Apapun kata kalian, apabila saya sendiri tidak memahat patung itu dari sebatang kayu, maka kalian tidak akan menemukannya, jadi Putri Naimanggale adalah milik saya” kata Raja Panggana. Baoa Partigatiga balik protes dan mengatakan, “Datu Partawar tidak akan berhasrat membuat patung itu bernyawa jika patung itu tidak kuhias dengan pakaian dan hiasan. Karena hiasan itu tetap melekat pada tubuh patung maka Raja Partawar memberi nyawa padanya”. Datu Partawar mengancam, dan berkata “Apalah arti patung hiasan jika tidak ada nyawanya ? karena sayalah yang membuat nyawanya, maka tepatlah saya menjadi pemilik Putri Naimanggale. Apabila tidak maka Putri Naimanggale akan kukembalikan kepada keadaan semula”. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga berpendapat lebih baiklah Putri Naimanggale kembali kepada keadaan semula jika tidak menjadi miliknya.

Demikianlah pertengkaran mereka bertiga semakin tidak ada keputusan. Karena sudah kecapekan, mereka mulai sadar dan mempergunakan pikiran satu sama lain. Pada saat yang demikian Datu Partawar menyodorkan satu usul agar masalah ini diselesaikan dengan hati tenang didalam musyawarah. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mulai mendengar kata-kata Datu Partawar. Datu Partawar berkata “Marilah kita menyelesaikan masalah ini dengan hati tenang didalam musyawarah dan musyawarah ini kita pergunakan untuk mendapatkan kata sepakat. Apabila kita saling menuntut akan Putri Naimanggale sebagai miliknya saja, kerugianlah akibatnya karena kita saling berkelahi dan Putri Naimanggale akan kembali kepada keadaannya semula yaitu patung yang diberikan hiasan. Adakah kita didalam tuntutan kita, memikirkan kepentingan Putri Naimanggale? Kita harus sadar, kita boleh menuntut tetapi jangan menghilangkan harga diri dan pribadi Putri Naimanggale. Tuntutan kita harus kita dasarkan demi kepentingan Putri Naimanggale bukan demi kepentingan kita. Putri Naimanggale saat ini bukan patung lagi tetapi sudah menjadi manusia yang bernyawa yang dituntut masing-masing kita bertiga. Tuntutan kita bertiga memang pantas, tetapi marilah masing-masing tuntutan kita itu kita samakan demi kepentingan Putri Naimanggale”.

Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mengangguk-angguk tanda setuju dan bertanya “Apakah keputusan kita Datu Partawar ?” Datu Partawar menjawab “Putri Naimanggale adalah milik kita bersama. Mana mungkin, bagaimana kita membaginya. Maksud saya bukan demikian, bukan untuk dibagi sahut Datu Partawar. Demi kepentingan Putri Naimanggale marilah kita tanyakan pendiriannya.” Mereka bertiga menanyakan pendirian Putri Naimanggale. Dengan mata berkaca-kaca, air mata keharuan dan kegembiraan Putri Naimanggale berkata “Saya sangat gembira hari ini, karena kalian bertiga telah bersama-sama menanyakan pendirian saya. Saya sangat menghormati dan menyayangi kalian bertiga, hormat dan kasih sayang yang sama, tiada lebih tiada kurang demi kebaikan kita bersama. Saya menjadi tiada arti apabila kalian bertengkar dan saya akan sangat berharga apabila kalian damai”.

Mendengar kata-kata Putri Naimanggale itu mereka bertiga tersentak dari lamunan masing-masing dan memandang satu sama lain. Datu Partawar berdiri lalu berkata “Demi kepentingan Putri Naimanggale dan kita bertiga kita tetapkan keputusan kita”

  1. Karena Raja Panggana yang memahat sebatang kayu menjadi patung, maka pantaslah ia menjadi Ayah dari Putri Naimanggale.
  2. Karena Baoa Partigatiga yang memberi pakaian dan hiasan kepada patung, maka pantaslah ia menjadi Amangboru dari Putri Naimanggale.
  3. Karena Datu Partawar yang memberikan nyawa dan berkat kepada patung, maka pantaslah ia menjadi Tulang dari Putri Naimanggale.

Mereka bertiga setuju akan keputusan itu dan sejak itu mereka membuat perjanjian, padan atau perjanjian mereka disepakati dengan :

  1. Demi kepentingan Putri Naimanggale Raja Panggana, Baoa Partigatiga dan Datu Partawar akan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi dan mungkin terjadi dengan jalan musyawarah.
  2. Bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale dan turunannya kelak, Putri Naimanggale dan turunannya harus mematuhi setiap keputusan dari Raja Panggana, Baoa Partigatiga dan Datu Partawar.
  3. Baoa Partigatiga yang menjadi amangboru Putri Naimanggale, Nasiddah Pangaluan meminang langsung Putri Naimanggale untuk menjadi suami anak yang bernama Guru Hatautan, dan atas persetujuan mereka Guru Hatautan dan Putri Naimanggale menikah dan merekapun mengadakan pesta ritual untuk pernikahan ini.

Setelah mereka sudah lama menikah Putri Naimanggale pun hamil. Akan tetapi Putri Naimanggale sangat lama mengandung dan selama mengandung terjadi kelaparan di daerah itu. Sesudah tiba saatnya, Putri Naimanggale pun melahirkan dua orang anak kembar, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Kisah ini menjadi aib bagi masyarakat Batak Toba. Anak kembar dengan jenis kelamin berlainan membawa malapetaka pada masyarakat setempat dan sedini mungkin secepatnya dipindahkan. Kemudian Guru Hatautan dan istrinya Putri Naimanggale memberi nama kepada kedua anak kembar itu sesuai dengan adat yang berlaku pada masa itu. Anak laki-laki itu disebut Si Aji Donda Hatautan dan anak perempuan itu disebut Si Boru Tapi Nauasan.

Sesudah acara atau upacara pemberian nama, tokoh-tokoh masyarakat pada waktu itu menganjurkan untuk memisahkan kedua anak itu dengan alasan bahwa kedua anak kembar itu tidak akan mengindahkan norma-norma dan hukum adat dikemudian hari. Umumnya sikap dan sifat anak kembar tidak jauh berbeda satu sama lain. Atas dasar pandangan masyarakat setempat pada masa itu menghendaki kedua anak kembar itu dipisahkan. Lama-kelamaan Si Aji Donda Hatautan dan Si Boru Tapi Nauasan berkembang dan tumbuh dewasa. Rasa cinta dan keakraban tumbuh tanpa disadari oleh keduanya.

Pada suatu ketika mereka saling berjalan ke hutan bersama seekor anjing. Rasa cinta yang tumbuh tanpa disadari bergejolak pada saat itu dan mereka melakukan hubungan badan. Sesudah melakukan hubungan yang tabu itu mereka melihat Pohon Si Tau Manggule yang sedang berbuah. Mereka ingin memakan buah pohon itu. Si Aji Donda Hatautan memanjat pohon tersebut dan memakan buahnya. Seketika itu ia melekat pada pohon itu. Kemudian Si Tapi Boru Nauasan memanjat pohon tersebut dan memakan buahnya dan ia pun melekat juga pada pohon itu. Sesudah kedua insan itu melekat pada pohon tersebut, mereka berusaha melepaskan diri, namun mereka tidak berhasil. Anjing yang ikut bersama mereka saat itu pergi memberitahukan keadaan Si Aji Donda Hatautan dan Si Boru Tapi Nauasan kepada Guru Hatautan dan Putri Naimanggale kedua orangtua mereka. Diajaklah Guru Guta Balian bersama dengan Datu datang ketempat mereka untuk melepaskan mereka dari pohon tersebut. Beberapa Datu yang lain yang datang kemudian ikut berusaha melepaskan kedua insan itu, namun mereka semua ikut melekat pada pohon Piu-piu Tunggale tersebut. Susunan personil pada Tunggal Panaluan itu adalah Si Aji Donda Hatautan, Siboru Tapi Nauasan, Datu Pulu Panjang Na Uli, Si Parjambulan Namelbuselbus, Guru Mangantar Porang, Si Sanggar Meoleol, Si Upar Manggalele, Barit Songkar Pangurura.

Menurut terjadinya, Tunggal Panaluan merupakan hukuman dari Dewa-Dewi, karena kedua anak kembar tersebut melakukan hubungan badan yang tidak sepantasnya. Kedua anak tersebut melekat pada pohon yang sedang berbuah menandakan bahwa Si Boru Tapi Nauasan telah mengandung dari kakaknya Si Aji Donda Hatautan. Mitos terjadinya Tunggal Panaluan diceritakan dengan bentuk ajaran yang dilanjutkan secara turun temurun. Unsur rasionalitas mitos tersebut ialah bahwa Tunggal Panaluan sungguh adalah hasil karya seni ukir masyarakat Batak Toba.

sumber : http://www.silaban.net

    %d blogger menyukai ini: