jump to navigation

Pengobatan II Februari 2, 2010

Posted by pea in Batak.
trackback

Pada saat Mulajadi Nabolon kembali ke benua atas, Mulajadi Nabolon bersabda kepada Raja Ihat Manisia dan Siboru Ihat Manisia “Jika kamu sekalian penghuni Benua Tengah hendak berhubungan dan bersekutu dengan kami penghuni Benua Atas, maka segala jenis sesajen yang hendak kamu persembahkan harus disusun rapi dan bersih serta diiringi dengan rasa penyampaian yang tulus dan suci. Sudah kuberikan kepadamu Hata Dua, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dan dirimu harus bersih dan suci”. Bersumber dari ajaran tersebut Parmalim memberikan pelean atau sesajen suci dengan dihantar asap dupa dan air suci serta bersih, tidak boleh makan daging babi dan anjing serta darah dan bangkai. Sebagai tindak lanjut ajaran tadi Ugamo Malim mempunyai rukun dan aturan yang dilaksanakan dan menjadi pedoman prilaku Parmalim antara lain : 

Marari Sabtu

Pada setiap hari sabtu atau samisara seluruh umat Parmalim berkumpul di tempat yang sudah ditentukan baik di Bale Partonggoan, Bale Pasogit di pusat maupun ruma Parsantian di cabang/daerah untuk melakukan sembah dan puji kepada Mulajadi Nabolon dan pada kesempatan itu para anggota diberi poda atau bimbingan agar lebih tekun berprilaku menghayati Ugamonya.

Martutuaek

Upacara yang dilakukan di rumah umat yang mendapat kelahiran seorang anak, atau pemberian nama kepada anak. Anak yang baru lahir sebelum dibawa bepergian kemana-mana harus lebih dahulu diperkenalkan dengan bumi terutama air untuk membersihkan dan ini dilaksanakan membawa anak tersebut ke umbul mata air disertai dengan bara api tempat membakar dupa. Kemudian baru dibawa ke dunia baru yaitu pasar dan diberi buah-buahan, manis perlambang hari depan yang makin manis. Setelah dirumah dilanjutkan lagi dengan upacara, bergantung pada kemampuan keluarga tersebut. Pada saat pulang dari pasar tadi, siapa saja diinginkan oleh keluarga si anak meminta buah-buahan bawaan si anak tadi sebagai perlambang bahwa si anak kelak akan bersifat maduma.

Mardebata

Mardebata yaitu upacara yang sifatnya individual dimana seorang melaksanakan upacara sendiri tanpa melibatkan orang lain. Ritual ini sendiri mempunyai tujuan ganda yaitu meminta keampunan dosa atau menebus dosa dan syukuran. Seseorang yang merasa dirinya menyimpang dari aturan patik perlu menyelenggarakan pardebataon sebagai sarana penebus dosanya. Bagi orang lain pardebataon itu mungkin pula untuk mewujudkan kaulnya. Mardebata ini boleh pula melibatkan yang lain. Hal itu bergantung kepada yang mampu. Karena Mardebata itu boleh dilaksanakan secara individu maupun berkelompok. Jika upacara dibuat besar-besaran misalnya untuk mewujudkan niatnya harus dengan menyediakan sesaji dengan secukupnya dan boleh pula dengan dihantar gendang sabangunan serta diatur oleh tata upacara resmi sesuai dengan tata upacara dari Ihutan atau dari Uluan. Upacara Mardebata ini bagi yang mampu nampaknya sudah seolah-olah pesta, karena undanganpun dapat pula dilaksanakan. Jadi jelas bergantung pada nazar dikandung oleh yang terlibat. Jika satu nenek moyang sudah berniat untuk memuja Mulajadi Nabolon dengan jalan Mardebata hal itu dapat dilakukan oleh satu nenek moyang itu.

Pasahat Tondi,

Upacara kematian dibagi dalam dua tahap, yaitu :

  1. Pengurasan jenazah menjelang pemakaman
  2. Pasahat tondi

Pemberangkatan jenazah dipimpin oleh Ihutan atau Ulupunguan dengan upacara doa : “Borhat ma ho tu habangsa panjadianmu”, artinya “Berangkatlah engkau ke tempat kejadianmu”. Satu minggu setelah pemakaman, keluarga yang ditinggal mengadakan pangurason tersemayamkan di rumah. Satu bulan setelah pemakaman, dilanjutkan dengan Upacara Pasahat Tondi. Upacara Pasahat Tondi adalah upacara mengantar roh dalam arti harfiah Tuhan menciptakan manusia atas dua bagian yaitu badan dan roh (pamatang dohot tondi). Apabila badan mati,  roh tidak ikut mati, ia akan kembali kepada pencipta-Nya.

Sesuai dengan pandangan Ketuhanan Parmalim, bahwa “Ngolu dohot hamatean huaso ni Debata” artinya “kehidupan dan kematian adalah kuasa Tuhan”. Maka upacara ini disebut upacara tonggo-tonggo atau dosa. Dapat dilakukan dengan sederhana dan dapat pula dilakukan dengan besar-besaran, bergantung pada kemampuan keluarga yang ditinggal. Tentu dengan demikian sesaji harus terhidang dan upacara harus memenuhi keseluruhan tata tertib acara berdasarkan Ugamo Malim. Ini bukan berarti bahwa acara tidak boleh dibuat sederhana. Boleh dengan acara sederhana, yang terpenting adalah bagaimana inti pasahat tondi itu harus terlaksana.

Mangan Napaet

Upacara Mangan Napaet adalah Upacara Berpuasa untuk menebus dosa, dilaksanakan selama 24 jam penuh pada setiap penghujung tahun kalender batak yaitu pada ari hurung bulan hurung. Upacara ini bersifat umum dilaksanakan oleh setiap cabang atau ganup punguan. Perangkat dasar upacara ini selain pangurason dan pardupaon yang terpenting ialah makanan Napaet yang diramu dari beberapa jenis buah dan daun yang pahit, seperti daun pepaya, buah ingkir, babal, cabe rawit, jeruk bali muda dan gara.

Mangan Napaet dilakukan pada awal puasa dan pada akhir sebelum berbuka, sedangkan ritual dimulai jam 12.00 tengah hari. pada saat semua jemaat berkumpul di parsantian atau dirumah Ihutan/Ulupunguan. Upacara dasar dimulai berupa puji-pujian kepada Mulajadi Nabolon-Raja Nasiak. Kemudian untuk mengingatkan hukumnya mangan napaet dimulai dengan cara mengedarkan napaet tadi secara estafet. Mangan Napaet adalah merupakan pengabdian warga parmalim kepada Raja Nasiak bagi yang menderita untuk manusia. Dan juga arti mangan napaet adalah simbol kehidupan dari pahit menjadi manis, karena sudah mangan napaet akan diakhiri dengan mangan natonggi dan inilah permulaan hidup prilaku baru untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. setelah mangan napaet maka dilaksanakan pula upacara persembahan kambing putih kepada Mulajadi Nabolon.

Upacara Sipaha Sada,

Upacara Sipaha Sada adalah merupakan upacara yang paling hikmat dan mengandung nilai religius yang paling dalam bagi Umat Parmalim. Pelaksanaan upacara ini disambut gembira karena sehari sebelumnya Parmalim baru saja selesai mengadakan upacara mangan napaet yaitu satu cara upacara pembebasan manusia dari dosa. Upacara Sipaha Sada adalah penyambutan datangnya tahun baru Ugamo Malim atau pada Sipaha Sada inilah pergantian tahun terjadi. Boleh dikatakan Sipaha Sada ini adalah tahun baru batak. Upacara ini pada umumnya seluruh orang batak melakukan dialog bathin. Dan hari berikutnya dinamai Suma. Pada hari itu diperingati hari lahir Simarimbulubosi. Upacara dipusatkan di Bale Pasogit. Upacara ini melakukan sesajen juga kepada Mulajadi Nabolon termasuk kepada ketiga wujud pancaran kuasa yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Debata Balabulan dan seterusnya sampai kepada Raja Nasiakbagi dihantarkan dengan asap dupa, air suci dan dengan bunyi gendang sabangunan.

Upacara ini dilaksanakan bersama di Bale Pasogit. Oleh semua umat Parmalim. Pada upacara ini dilaksanakan dengan tertib dan memang benar-benar tertib dan hikmat karena dianggap hari tersebut adalah memperingati kelahiran Tuhan.

Upacara Sipaha Lima,

yaitu upacara dilakukan pada bulan kelima kelender Batak untuk menyampaikan puji-pujian kepada Mulajadi Nabolon termasuk kepada wujud Pancaran Kuasanya mulai dari Debata Batara Guru-Debata Sori dan Balabulan dan seterusnya kepada Raja Nasiakbagi, karena atas berkat-Nya semua mereka memperoleh rahmat, sehat jasmani dan rohani. Upacara ini disebut Upacara Kurban, karena sajian yang dipersembahkan adalah hewan kurban dari kerbau atau lembu. Sajian pertama kepada Mulajadi Nabolon yang seterusnya diantar dengan asap dupa dan air suci dan dengan bunyi gendang sabangunan. Penyelenggaraan upacara Sipaha Lima ditetapkan pada hari ke 12-13 dan 14 menjelang bulan purnama. Hari tersebut dinamakan Boraspati, Singkora dan Samisara berkisar antara bulan Juli-Agustus pada bulan Masehi. Upacara diadakan dengan sajian yang lengkap dilaksanakan dengan penuh hikmat tanpa syukur Parmalim kepada Tuhannya dan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan pada hari-hari berikutnya.

Jika pandangan Batak Tua mengenai Ketuhanan dikembangkan Parmalim dengan Ugamo Malim, maka berikut ini yaitu oleh masyarakat Batak sekarang masih memperilakukan pandangan tersebut pada kehidupannya sehari-hari dalam bentuk budaya ritual. Untuk lebih memahami pendapat ini marilah kita mulai lagi melihat pandangan dan kehidupan masyarakat Batak dahulu dengan masyarakat Batak sekarang.

Lambang wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon adalah hembang atau bendera-bendera berwarna hitam diatas, putih ditengah merah dan dibawah dalam satu kesatuan yang disebut Debata Natolu.

  1. Warna Hitam adalah lambang Debata Batara Guru dari wujud pandang kuasa Mulajadi Nabolon dalam kebijakan atau hahomion. Artinya adalah bahwa pikiran manusia tidak mampu meneliti atau memikirkan kebijakan Mulajadi Nabolon. Hahomion Mulajadi Nabolon itu dapat dialami tetapi tak dapat dipikirkan. Sebagaimana warna hitam pekat demikian pulalah gelapnya pikiran manusia atau kebijakan Mulajadi Nabolon. Manusia tidak dapat meramalkan dan meraba seperti gelapnya warna hitam, demikian pulalah dangkalnya dan gelapnya pikiran manusia tentang kebijakan Tuhan. Manusia tidak mampu untuk itu. oleh sebab itu lambang hitam dari Batara Guru adalah pertanda penyerahan diri kepada-Nya. Hanya terserah pada kebijakan Tuhanlah kehidupan manusia. Manusia tidak akan dapat berjalan pada warna hitam yang ketat, malam yang gelap. Maksudnya manusia tidak akan dapat berjalan di dunia ini oleh dirinya sendiri. Apalah arti manusia dibandingkan dengan Kuasa Agung yang dimiliki-Nya. Berserah kepada kebijakan Tuhanlah hidup ini karena Dialah kebenaran yang menetapkan kebijakan itu. jadi arti warna hitam pada lambang adalah berserah diri kepada kebijakan Tuhan atau berserah diri kepada hahomion ni Debata atau dengan kata lain : “Tung asi ni roha ni Debata ma”.
  2. Warna putih dari hembang adalah lambang Debata Sorisohaliapan sebagai wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon mengenai kesucian atau hahomion. Putih tidak dapat dibedakan. Dengan demikian dalam warna putih tidak terdapat perbedaan. Demikianlah Debata Sohaliapan bahwa pada diriNya tidak ada perbedaan maka sering dikatakan Putih ada perbedaan pada dirinya. Dia harus sama dengan yang lain. Apabila dia sudah sama dengan yang lain, dan itu pula-lah hukum kekuatan baginya dan dialah menjadi penguasa hukum kekuatan itu (habonaron).
  3. Warna merah dari hembang adalah lambing Debata Balabulan sebagai wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon mengenai kekuatan. Balabulan adalah wujud kejadian kekuatan alam itu. merah adalah warna tanah atau rata dalam bahasa batak, merah itu adalah perlambang kegairahan untuk hidup. Justru kegairahan untuk hidup itulah maka timbul keberanian. Seseorang yang berani ia tidak takut mati, maka sering kita dengar : “Mardomu di tano rara hita” maksudnya mereka baru berjumpa setelah mati.Agar mati itu jangan sampai terjadi maka harus tetap kuat. Agar tetap kuat inilah dilambangkan dengan merah yaitu wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon menjadi kekuatan. Warna merah adalah perlambang kekuatan dan agar tetap kuat (hagogoon). Setiap manusia mengharapkan kekuatan ada padanya. Kekuatan itu belum sempurna apabila hanya untuk diri sendiri. Dan lebih tidak sempurna lagi apabila tidak diridhoi Tuhan.

Apabila kita padu arti ketiga warna tadi, maka dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa Warna Hitam itu adalah kebijakan Tuhan, Warna Putih itu adalah kesucian Tuhan, dan Warna Merah adalah kekuatan Tuhan (hahomion-hamalimon-hagogoon). Dengan melihat bendera atau lambang yang warnanya hitam diatas, putih ditengah dan merah dibawah, itu berarti menggambarkan kebijakan, kesucian dan kekuatan dari Tuhan. Artinya yang dilambangkan dalam bendera itu adalah Batara Guru sebagai wujud pancaran kuasa kebijakan, Debata Sorisohaliapan sebagai wujud pancaran kuasa kesucian dan Debatabulan sebagai wujud pancaran kuasa kekuatan dari Mulajadi Nabolon.

Lambang ini boleh dipisah-pisah seperti satu bendera tetapi dipacakkan berdekatan, dengan ketentuan hitam di kanan, putih ditengah dan merah dikiri. Kesimpulan arti lambang bahwa warna hitam – putih – merah merupakan kebijakan-kesuciannya dan kekuatannya tidak dapat dibandingkan, tidak bermula dan tidak akan berakhir dan mula segala yang ada. Ini adalah merupakan keyakinan orang batak pada umumnya dari dahulu sampai sekarang.

Ulos yang masih dipakai orang batak dalam kehidupan adatnya adalah bonang manalu, warna pokok dari setiap ulos batak adalah hitam putih dan merah, sedang warna lain adalah variasi kehidupan. Mangulosi dalam adat batak adalah upacara ritual dan hikmatnya masih dapat dirasakan masyarakat batak. Gorga adalah bonang manalu perlambang doa masyarakat batak akan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa mampu mengayomi manusia. Gorga itu dipakai pada rumah maka disebut ruma gorga. Penghuni Ruma Gorga akan tetap yakin bahwa mereka akan selamat berkat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Hidup orang batak tidak dapat terlepas dari Bataraguru dari Debata Sorisohaliapan dan Debata Balabulan dalam arti kekerabatannya yaitu hahomion ni Debata. gambaran Bataraguru, gambaran Debata Sorisohaliapan dan gambaran Debatabulan terdapat pada kehidupan masyarakat batak dalihan natolu.

Tortor Pangurasan

Tortor Pangurason yang berarti Tari Pembersihan. Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar yang mana lebih dahulu dibersihkan tempat dan lokasi pesta sebelum pesta dimulai agar jauh dari mara bahaya dengan menggunakan jeruk purut.

Tortor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan)

Tari Sipitu Cawan yang berarti Tari Tujuh Cawan. Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja, tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi disebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).

Mangapus Hoda Miakan

Budaya ritual Mangapus Hoda Miakan ini sangat jarang digelar sebab budaya ini digelar pada pesta pengukuhan siraja batak, ini digelar terakhir sekali pada pesta pengukuhan Raja Sisingamangaraja menjadi Siraja Batak dengan menggunakan makan kuda putih.

Tortor Tunggal Panaluan

Tortor tunggal panaluan merupakan suatu budaya ritual yang biasa digelar pada saat desa dilanda musibah, maka Tanggal Panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah dan Benua bawah.

Mangalahat Horbo

Mangalahat Horbo termasuk budaya ritual yang sangat penting sebab setiap tahun dilaksanakan pada hari kelahiran raja, hatorusan acara ritual ini sekaligus memberi sesajen kepada Mulajadi Nabolon dan Debata Natolu agar setiap manusia jauh dari mara bahaya. Budaya ritual Mangalahat Horbo ini merupakan kunci dari seluruh ritual budaya batak kepada Mulajadi Nabolon.

Bahan pengobatan ritual yang selalu harus dibutuhkan.

Dalam pengobatan tradisional batak tidak selamanya menggunakan tumbuhan. Ada juga menggunakan makanan dan budaya ritual dalam pengobatan batak, suku batak selalu menggunakan anggir dan daun sirih dari seluruh kegiatan pengobatan dan budaya ritual.

Pengobatan dengan budaya ritual penyucian

Pengobatan ini biasa dilakukan dengan memandikan para pasien ke dalam air yang mengalir dengan menggunakan anggir dan tumbuhan lain yang sifatnya bertujuan membuang penyakit dari tubuh si penderita. Biasanya setelah selesai dimandikan setibanya dirumah akan diberikan makanan berupa ayam bagi laki-laki dan ikan bagi para wanita dengan tujuan agar roh para penderita menyatu dengan badan. Sebab manusia yang sakit biasanya karena rohnya tidak berada di dalam jasad.

Ilmu Pelindung

Dalam Ilmu Pelindung ini biasanya orang mencintainya dengan tujuan agar manusia tersebut jauh dari mara bahaya dan sekaligus membangunkan roh-roh kekuatan yang ada pada tubuh kita. Dalam memberikan ilmu pelindung ini biasanya si penerima dibersihkan dibungkus dengan kain 3 warna, merah, putih, hitam dengan harapan merah kekuatan, putih kesucian dan hitam kebijakan berdiam dan bangkit dalam dirinya dan darahnya, sambil air jatuh di kepala si penerima dan si pemberi saling memohon untuk ilmu perlindungan tersebut.

sumber : http://www.silaban.net

%d blogger menyukai ini: