jump to navigation

Kitab Batara Guru II (Naga Padoha Ni Aji) Januari 28, 2010

Posted by pea in Batak.
trackback

Pada suatu hari Manuk-manuk Hulambujati bertelur tiga butir. Hatinya tertegun dan heran, karena telurnya lebih besar dari dirinya. Melihat telur tersebut tidak bisa di erami, kemudian Manuk-manuk Hulambujati menjumpai Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon dan menitipkan pesan, Dia berkata : “E ….. Leangleangmandi Untunguntung Nabolon, harap murah hatimu menyampaikan dahulu pesan ku ini kepada Ompunta Maulajadi Nabolon, Aku tidak tahu bagaimana akan kuperbuat perihal telurku yang tiga ini, kuperam tidak cukup dengan buluku”. Akhirnya Leangleangmandi menyampaikan pesan itu kepada Ompunta Mulajadi Nabolon. Ia berkata : “Ya Ompung, bagaikan beras yang tidak bercampur dengan antah, yang tidak lupa di pesan yaitu pesan dari Manukmanuk Hulambujati, apa seharusnya dilakukan pada ketiga telurnya itu ?” Ompunta Mulajadi Nabolon berpesan : “Katakanlah agar telur itu tetap diperami. Aku yang lebih tahu akan hal itu, bawalah dua belas butir beras ini, butiran beras ini harus dimakan setiap bulan. Jika terasa gatal pada paruhnya, patukkan kepada telur itu.” Kemudian Leang-leangmandi menyampaikan pesan Ompunta Mula Jadi Nabolon kepada Manuk-Manuk Hulambujati. Manuk-Manuk Hulambu Jati segera melaksanakan pesan dari Ompunta Mula Jadi Nabolon. Setelah tiba saatnya paruh Manukmanuk Hulambujati menjadi gatal lalu dipatukkannya kepada tiga butir telur tersebut. Telur itupun berputar dan kemudian keluar dari setiap telur tersebut menyerupai manusia laki-laki. Dari telur pertama keluar Batara Guru Doli, Batara Guru Panungkunan, Batara Guru Pandapotan, yang menjadi kebijakan dari segala kerajaan, memegang timbangan kepada seluruh yang dijadikan, permulaan gantang terajunan, timbangan yang adil, bajak pembelah tali, keatas tiada dapat terungkit, kebawah tak dapat oleng dan kesamping tidak akan miring.

Dari telur ketiga, keluar Debata Bala Bulan, Balabulan Matabun, Balabulan Nambun yang rubun dipuncaknya. Datu Paratalatal, Datu Parusulusul, mengendarai kuda sembarani, pisau bermata dua, bertombak dua ujung, permulaan kuasa perdukunan kepada manusia. Dari telur ketiga itu juga keluar Raja Padoha, Naga Padoha Niaji, bertanduk tujuh, berkuasa di bawah tanah, asal mula dari gempa. Debata Bataraguru, Debata Sorisohaliapan, Debata Balabulan, itulah Debata Natolu, yang tiga Pendirian, tiga kuasa.

Kemudian Leang-leangmandi menyampaikan kembali pesan Ompunta Mula Jadi Nabolon kepada Manuk-Manuk Hulambujati. Pesan tersebut kembali dilaksanakan. Setelah habis ke sebelas butir beras itu dimakan, paruh Manukmanuk Hulambujati menjadi gatal, kemudian dipatuknya ketiga bambu tersebut sehingga pecah lalu keluarlah dari tiap buku bambu itu tiga wanita, yang pertama bernama, Siboru Porti Bulan, kedua Siboru Malimbin Dabini, ketiga Siboru Anggarana.

Waktu demi waktu terus berjalan keenam anak dan ketiga wanita tersebut semakin dewasa, hal ini membuat hati Manuk-manuk Hulambujati menjadi gelisah “Apa yang harus aku perbuat terhadap mereka?” pikirnya dalam hati. Akibat kegelisahan yang dialaminya Manuk-Manuk Hulambujati kembali menjumpai Leangleangmandi Untung-untung Nabolon, kemudian ia berkata: “Berangkatlah engkau tolong tanyakan kepada Ompunta Mulajadi Nabolon, apa yang harus aku perbuat terhadap anak-anak yang telah dewasa ini”.

Setelah mengerti maksud dari Manuk-manuk Hulambujati, Leangleangmandi Untung-untung Nabolon segera menyampaikannya kepada Ompunta Mulajadi Nabolon. Lalu Ompunta Mulajadi Nabolon berpesan: “Hai Leangleangmandi katakanlah kepada Manukmanuk Hulambujati, jadikanlah ketiga wanita itu menjadi istri Debata Natolu.” Kemudian pesan itu disampaikan Leangleangmandi kepada Manukmanuk Hulambujati, maka Manukmanuk Hulambujati melaksanakan pesan tersebut. Akhirnya ketiga wanita tersebut menjadi istri dari Debata Batara Guru, Debata Sorisohaliapan dan Debata Balabulan.

Manukmanuk Hulambujati berkata: “Ketiga orang itu telah beristri, tetapi bagaimana tentang Siraja Odapodap, Tuan Dihumijati dan Raja Padoha?.” Kemudian pesan itupun disampaikan kepada Ompunta Mulajadi Nabolon oleh Leangleangmandi maka Ompunta Mualajadi Nabolon bersabda kepada Leangleangmandi: “Katakanlah kepada Manukmanuk Hulambujati bahwa Akulah yang memikirkan akan hal itu, dan harus ditunggu anak dari yang tiga tadi, yang akan menjadi istri mereka kelak.”

Tetapi setelah pesan itu disampaikan Leangleangmandi Untung-untung Nabolon kepada mereka, Siboru Deakparujar berdalih dan menolak keputusan tersebut, Siboru Deakparujar hanya berpegang pada kemauannya sendiri. Kemudian Siboru Deakparujar meminta kapas tiga gumpal dari Ompunta Mulajadi Nabolon untuk dijadikan benang. Apabila dapat di tenun menjadi kain (ulos) maka ia akan menerima perjodohannya dengan Siraja Odapodap. Waktu terus berjalan, kemudian Mulajadi Nabolon dan Leangleangmandi Untung-untung Nabolon datang, ternyata pintalan benang yang ditenun Siboru Deakparujar, masih tetap sebesar pinang muda. Akibat yang dipintal pada malam hari pagi-pagi ditanggali, yang ditenun pada siang hari ditanggali pula pada malam hari. Kemudian pintalan benang tersebut tercampak ke halaman batangan, terbenam sangat dalam, sampai tidak dapat di tarik dari tempat tersebut. Hati Siboru Deakparujar gundah gulana lalu minta tolong kepada Ompunta Mulajadi Nabolon, kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon berpesan: “Ambillah tongkat tudutudu tualang nabolon, tusukkan ke dekat pintalan benangmu, lalu tarik dengan hati-hati.” Lalu Siboru Deakparujar melaksanakan pesan tersebut, nyatanya pintalan benang itu semakin dalam terbenam. Walaupun demikian ujung benang masih melekat pada alat pemintalannya. Akhirnya pintalan benang tersebut Jatuh dan menarik Siboru Deakparujar sehingga melayang-layang di Benua Tengah di atas air.

Siboru Deakparujar bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang terjadi. Lalu ia berdiri diatas tanggul, sambil memanggil : “Leangleangmandi Untunguntung Nabolon sahutilah aku dahulu, karena aku tidak tahu semuanya ini.” Lalu Ompunta Mulajadi Nabolon menyuruh Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon menjumpai Siboru Deakparujar “Apa yang hendak engkau katakan padaku?”, kemudian Siboru Deakparujar menjawab: “Tanah yang kutempah itu rubuh, aku tidak tahu mengapa demikian. Kini kuharapkan kemurahan hatimu untuk meminta sekepal tanah kepada Ompunta Mula Jadi Nabolon agar kembali sedia kala.” Kemudian Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon kembali ke Benua Atas menyampaikan permintaan Siboru Deakparujar kepada Ompunta Mulajadi Nabolon. Sekepal tanah yang diminta tersebut dikabulkan kemudian di bawa oleh Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon selanjutnya diberikan kepada Siboru Deakparujar, lalu ia mengulangi kembali tempahannya dan tanah tempahan tersebut kembali seperti sedia kala.

Kemudian Raja Padoha berkata : “Mengapa engkau tinggal disini, Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon sudah mundar-mandir menjemputmu untuk kembali ke Benua Ginjang supaya engkau dijodohkan dengan Siraja Odapodap.” Kemudian Siboru Deakparujar menjadi marah dan berkata : “Riaspun diatas, batangnya di bawah, dipaksapun keatas dicampakkan ke bawah, bagaimanapun saya tidak akan mau dijodohkan dengan Siraja Odapodap, pekerjaan inilah yang paling penting bagiku.” Lalu Siboru Deakparujar memanggil Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon, meminta sirih kepada saudaranya Nan Bauraja dan Narudung Ulubegu masing-masing satu lembar. Lalu Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon pergi menjemput sirih tersebut kemudian memberikannya kepada Siboru Deakparujar. Selanjutnya sirih tersebut dimakan oleh Siboru Deakparujar kemudian ia menjadi cantik jelita. Lalu di semburkannya sirih tersebut ke pundak Raja Padoha. Semburan air sirih tersebut tepat ke pundak Raja Padoha. Melihat bibir yang merah serta kilauan gigi Siboru Deakparujar. Raja Padoha bertanya “Apa gerangan itu tolong berikan padaku” Siboru Deakparujar lalu menyahut : “Itu adalah minyak wangi memperbaiki jantung, membuat hati sehat dan segar bernafas. Salah satu kelebihan dari putri raja yang menjadi pertanda kesopanan dan prilaku adapt.” Kata Raja Padoha “Jika demikian maksudnya, harap diberikan juga, agar dapat bersikap sopan santun dan berprilaku adat istiadat.”

Kata Siboru Deakparujar “Jika engkau menginginkan itu, satu syarat harus dipenuhi yaitu apa yang saya katakan harus engkau penuhi. Syarat itu adalah bahwa engkau harus kupasung lebih dahulu, agar dapat kuberikan padamu. Jika engkau mengharapkan yang lebih baik untuk diberikan, engkau harus dipasung mulai dari kaki, pinggang sampai dengan tanganmu.”

Sejak tanah yang ditempah oleh Siboru Deakparujar tidak rubuh lagi, hanya terban saja yang terjadi sehingga membuat jurang dalam, tebing curam, lembah-lembah, gunung-gunung yang berbukit-bukit. Setelah tanah tersebut selesai ditempah oleh Siboru Deakparujar dengan dataran rendah yang luas namun masih telanjang. Belum ada tumbuhan dan lain-lainnya, maka Siboru Deakparujar memohon kepada Leangleangmandi Untunguntung Nabolon : “O…Leangleangmandi Untunguntung Nabolon, selesai sudah tanah itu saya tempa, tetapi tidak tertahankan dinginnya karena tidak ada tempat untuk pemukiman. Karena itu tolonglah minta dahulu kepada Mulajadi Nabolon, tumbuh-tumbuhan pada tanah itu.” kemudian Leangleangmandi Untung-untung Nabolon menyampaikan permintaan tersebut kepada Ompunta Mulajadi Nabolon lalu Ompunta Mulajadi Nabolon menugasi Batara Guru untuk membuat segala jenis benih dari tumbuh-tumbuhan, segala yang terbang dan semua kehidupan bergerak di dalam satu karung. Karung itu ditutup oleh Batara Guru lalu berkata kepada Leangleangmandi Untunguntung Nabolon : ” Nah bawalah ini kepada Siboru Deakparujar, dan katakanlah padanya bukalah karung ini, tetapi lebih dahulu kembangkan tikar disekitarnya dan kamu tidak boleh takut melihat apa saja yang keluar dari dalam karung ini”. Pada suatu hari Siboru Deakparujar berjalan-jalan di atas sisi tanah sambil memandang di sekitarnya melihat keindahan segala sesuatu yang tumbuh. Kemudian terlihat bekas tapak kaki yang serupa dengan tapak kakinya. Lalu ia merenung dan berpikir dalam hatinya : “ siapa gerangan orang yang berlalu dari sini tanpa sepengetahuanku”. Tidak ada seorangpun tempat untuk bertanya kemudian dia hanya diam saja. Melihat bekas tapak kaki tersebut, Siboru Deakparujar berharap agar suatu saat dapat melihat orang yang meninggalkan bekas jejak tapak kaki tersebut. Namun tanpa disangka mereka bertemu, lalu Siraja Odapodap menyapa tunangannya tersebut : “ Rupanya engkau berada disini. Engkau telah lama ditakdirkan menjadi jodohku”. Siboru Deakparujar lalu menyahut :” tidak, jika ada yang cocok, bukan engkau orangnya “. ” Tujuh tahun sebenarnya sudah cukup lama dan membosankan, lebih dari itu sepuluh tahun sudah aku nanti,” ujar Siraja Odapodap. Siboru Deakparujar menjadi masgul, karena ia lebih cantik dari Siraja Odapodap, lalu ia bermohon kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : “ Bawalah aku ke Benua Atas, karena aku telah rindu kepada ayahku Batara Guru”. Leangleangmandi Untung-untung Nabolon lalu menjawab : ” aha… aku tidak boleh membawamu ke Benua Atas sebelum bertanya kepada Ompunta Mulajadi Nabolon”. namun permohonan tersebut tetap disampaikan, Kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon berseru kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : ” Selama Aku memanggilnya untuk kembali ke Benua Atas, hatinya tetap ingin tinggal di Benua Tengah, maka Biarlah dia tetap di Benua Tengah. Apabila engkau membawanya, engkau akan kena hukuman dariKu”. Leangleangmandi Untung-untung Nabolon menyampaikan pesan tersebut kepada Siboru Deakparujar, dia termenung sambil berpikir, rupanya hal ini sudah menjadi nasibku. Siraja Odapodap kemudian berkata : ” jangan engkau bersedih bahwa apa yang telah di takdirkan saatnya pasti akan datang, karena apabila sudah jodoh tidak dapat dielakkan”. Kemudian Siboru Deakparujar lalu menangis dan bermohon kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon supaya menyampaikan pesan kepada Ompunta Mulajadi Nabolon agar merestui perkawinannya dengan Siraja Odapodap, karena takdir tak dapat terelakkan. Konon Ompunta Mulajadi Nabolon bersabda : ” Biarkanlah ia memberkati dirinya sendiri, bukan karena perintahku maka ia mau, tetapi karena tidak ada jalan lain lagi maka ia berkata demikian. Walaupun begitu bukan berarti bahwa mereka tidak berkembang dengan baik dan sejahtera, akan tetapi ia akan tetap kena hukuman akibat perbuatannya selama ini”. Siboru Deakparujar kemudian bermohon kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : “Jika harus dihukum juga, aku tetap mengelak tidak mau kawin dengan Siraja Odapodap, akan tetapi apabila Ompunta Mulajadi Nabolon memberitahukan apa bentuk hukuman tersebut, maka aku akan mengambil sikap dan keputusan untuk mengiyakan”. kemudian Leangleangmandi Untung-untung Nabolon menyampaikan permohonan tersebut kepada Ompunta Mulajadi Nabolon, maka Ompunta Mulajadi Nabolon berkata: ” Engkau akan bersusah payah, dan engkau akan berkeringat untuk mencari makanmu “. Setelah mereka sudah menjadi suami istri di Benua Tengah dan tibalah saatnya Siboru Deakparujar pun hamil, lalu meminta tawar perselisihan dan berkat tuah yang agung serta tawar mulajadi . Leangleangmandi Untung-untung Nabolon kemudian memberikan kepada Siboru Deakparujar dan diselipkan pada kain dan sanggulnya. Kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon berkata kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : ” Katakanlah kepada Siboru Deakparujar, apabila kandungannya sudah lahir itu akan menjadi sanggul-sanggul untuk tanah yang ditempanya “. Mengetahui hal tersebut Siboru Deakparujar berdiam diri karena malunya. Berselang beberapa hari, Siboru Deakparujar melahirkan kandungannya, namun bentuknya seperti bulatan, tidak berkaki, tidak bertangan dan tidak berkepala. Maka ia menjadi bingung karenanya. Pada suatu hari Siboru Deakparujar hamil kembali, kemudian lahirlah anak yang kembar satu laki-laki dan satu perempuan. Nama anak laki-laki Siraja Ihat Manisia atau tuan Mulana dan menjadi permulaan manusia laki-laki. Nama anak perempuan Siboru Ihat Manisia itulah asal-usul ibu manusia. Setelah anak yang dua itu besar, Siboru Deakparujar memesankan kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon, agar keluarganya dari Benua Atas datang untuk bergembira serta merestui anaknya yang dua itu. Kemudian datanglah Ompunta Mulajadi Nabolon, Debata Sori, Debata Asiasi, turun dari Benua Atas, langit dari parlangitan, melalui benang urutan Siboru Deakparujar. Mereka tiba di puncak Gunung Pusuk Buhit, dan dari sanalah tempat permulaan manusia yaitu Sianjurmulamula – Sianjurmulamulajadi – Sianjurmulamulatompa, membelakangi jauh dan berhadapan dengan Toba, berpancuran gelang, bertapian jabi-jabi untuk bercuci muka di pagi hari dan untuk bercuci diri di malam hari. Itulah yang dihimpit dua cabang lautan tempat berpijak Dolok Pusuk Buhit, yang menjadi tempat keramat Nalaga yang tidak boleh dilalui dan tidak boleh bercela. Setelah Ompunta Mulajadi Nabolon tiba di tempat Siboru Deakparujar lalu memberkati mereka. Maka sampailah ke dalam hati mereka apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. kemudian diberitahukan juga jalan atau cara apa yang dapat ditempuh oleh manusia untuk berhubungan dengan Ompunta Mulajadi Nabolon di Benua Atas yaitu berupa sajian (sesajen) dengan benda yang sangat berharga (homitan). Barang homitan yang paling berharga untuk berhubungan dengan Ompunta Mulajadi Nabolon adalah Kuda Sihapaspili. Dan sesajen kepada Mulajadi Nabolon, tepat dua takaran, daun kemangi dan sirih kembang. Kepada Debata Sori, jeruk purut dan tuak di dalam sawan beserta daun kemangi, kepala Balabulan dua lepat, bunga-bungaan mekar dan sirih kembang. Ompunta Mulajadi Nabolon bersabda : “Jika kamu sekalian penghuni Benua Tengah hendak berhubungan dan bersekutu dengan kami penghuni Benua Atas, maka segala jenis sesajen yang hendak kamu persembahkan harus disusun rapi dan bersih serta diiringi dengan rasa penyampaian yang tulus dan suci “. Maka itulah permulaan yang menjadi dasar hodadebata diurapi manusia. Setelah genap selesai seluruhnya diatur, Mulajadi Nabolon lalu naik ke Dolok Pusuk Buhit hendak kembali ke Benua Atas, Karena kaki Debata Asiasi timpang-timpang tinggallah ia dibelakang bersama Raja Inggotpaung. Siboru Deakparujar dengan Siraja Odapodap turut juga kembali ke Benua Atas. Setelah kedua anaknya Siraja Ihatmanisia dan Siboru Ihat Manisia dititipkan kepada Debata Asi-asi dan Raja Inggotpaung

Pada saat mereka hendak naik ke Benua Atas, kedua anaknya tersebut terus menatap ingin turut serta, namun tali telah putus hingga gagal. Tali yang putus tersebut beterbangan ke seluruh penjuru desa yang delapan. Sejak itu hanya Batunanggarjati jalan ke Benua Atas dan Debata Asiasi menjadi penghubung antara Benua Tengah dan Benua Atas berulang-ulang.

sumber : http://www.silaban.net
%d blogger menyukai ini: