jump to navigation

Kasihan ataukah Peduli ? Januari 27, 2010

Posted by pea in Puisi Venesya.
trackback

Venesya…biarkan aku bersama mu malam ini
menceritakan tentang apa yang ku lihat

Venesya…aku duduk ditempat yang telah ku beli bersama – sama dengan mereka
aku melihat dia dia berpakaian hitam, sama hitamnya dengan kulitnya
tidak venesya… aku melihat kulitnya lebih kusam dari pakaiannya

Venesya…dia mengucapkan salam kecil yang tidak terdengar
dia memulai, menarik perhatian kami dengan menggoyangkan botol kecil
dan dia memulai tentang apa yang dikatakan bernyanyi
tapi kau tau venesya… aku sama sekali tidak mendengar nyanyian olehnya
dimanakah suara nyanyian itu ?

Venesya…aku mencoba memperbesar ukuran daun telinga ku
telinga ku yang sesuai dengan fungsinya, meraba – raba dimana letak suara nyanyian olehnya
tapi tetap saja venesya… sama sekali aku tidak dapat mendengarnya bernyanyi

Venesya…aku mencoba fokus kepadanya
mengalihkan fungsi telinga ku ke dua kelopak mata ku
kau tau venesya… lama sekali aku menemukan suaranya yang begitu sayu
dan oleh mata ku kini kudengar sebuah pesan tentang perjuangan

Venesya…setiap tarikan nafas penuh dengan perjuangan
haruskah aku, kau, dia dan mereka menyangkal hal ini ?
aku sadar venesya… sejak aku berupa cinta antara Ayah dan Ibu ku
aku telah mengalahkan berjuta – juta kesempatan
haruskah aku sombong ? atas kemenangan itu
haruskah aku bersedih ? atas mereka yang tidak menjadi nyata
sama seperti dia, haruskah ?

Venesya…aku bersyukur atas nikmatnya arahan dan nasehat
tapi bagaimana dengan dia apakah dia juga bersyukur ?
atau adakah dia mendapatkan arahan dan nasehat
jika tidak, mungkinkah kata syukur terucap olehnya

Venesya…katakan pada ku
Bagaimana mungkin seorang Einstein menjadi begitu tersohor ?
Bagaimana mungkin seorang Bunda Theresa menjadi begitu suci ?
Bagaimana mungkin Ayah dan Ibu ku mencukupi aku ?
tanpa arahan dan nasehat

Venesya…kini dia mendekati aku
melepas senyuman yang tak berasa
menawarkan “dompet PAHALA”

Venesya…tangan ku memberi dan mulut ku ingin mengucapkan
ingin…ingin…hanya ingin, venesya…ingin sekali aku mengatakan padanya
“aku kasihan terhadap nasib mu teman ku
tubuh mu yang kurus, kulit dan rambut mu yang begitu kusam
aku kasihan terhadap nasib mu teman ku
tidur tanpa mimpi…
hanya ini yang mampu ku beri
inilah hasil mu, pergunakanlah untuk kebebasan mu
Hidup Merdeka dan Mati Mulia”

Venesya…salah kah aku jika kasihan ?
tidak kah lebih bijak jika seharusnya aku peduli dan bukan kasihan
Venesya…seorang pedagang melarang aku memberi pada dia yang berbeda
pedagang itu berkata pada ku
“dia hanya akan membeli lem “kambing” lalu menghisapnya dalam – dalam
kemudian dia hanya akan berkhayal dan sekali – kali dia membantai tanpa kesadaran”
haruskah aku kasihan dan bukan peduli ?

Venesya…aku mendengar kabar tentang dia yang berbeda
“dia memiliki istana yang terbuat dari emas, keturunannya adalah seorang dokter”
hanya itu yang kudengar tanpa pembuktian
haruskah aku iri terhadap perjuangan ?
haruskah aku peduli dan bukan kasihan ?

Venesya…kau tau hati ku
kini aku menemukan tempat ku
si pemilik tempat menerima aku
dan aku mempercayakan keinginan dari ikatan perjanjian ku
sama seperti aku percaya pada-Nya walaupun aku belum pernah bertemu dengan-Nya

Venesya…aku lelah malam ini
biarkan aku tertidur dipangkuan mu
yang begitu putih mulus, empuk dan mengeluarkan aroma khas

Komentar

1. berta tampubolon - Januari 27, 2010

bagusssssss,,,, terus berkarya,,, maju terus pemuda batak…

pea - Januari 27, 2010

pemuda batak membutuhkan doa wanita – wanita batak🙂

2. Ellen Hutabarat - Januari 27, 2010

Aku bahkan tidak tau kemana hati ini akan aku arahkan,
apakah artinya kasihanku dan maukah dia terima peduliku..
Yang aku tau Tuhan jadikan semua itu, karena itu punya makna dan indah di mataNya..

Btw, puisinya COOL.. Saya suka..

Tuhan memberkati..


Sorry comments are closed for this entry

%d blogger menyukai ini: