jump to navigation

Kitab Debata Sorisohaliapan – 1 Januari 22, 2010

Posted by pea in Batak.
Tags: , , , , ,
trackback

Kitab Debata Sorisohaliapan

Debata Sori Sohaliapan adalah pancaran kesucian Allah. Kitab ini berisi tatanan hidup manusia, mana yang dapat dilakukan dan mana yang tidak dapat dilakukan sesuai dengan titah dan peraturan sesuai dengan budaya masing-masing.

Laklak Debata sori (Kitab Debata Sori)

Debata Sori adalah cerminan kegemaran Mulajadi Nabolon yang berlambang putih. Mulajadi Nabolon bersabda kepada Debata Sori Murni, Sori Tenang, Sori Benar “dan jagalah manusia kelak, jagai seperti ladang padi yang hendak panen, jagai seperti bayi, gembalakan seperti kerbau penghuni benua ini dan engkaulah yang punya gendang tujuh perangkat, yang menimbang kata-kata dan perbuatan yang salah berikat kepala merah, punya pisau si dua mata pemberi hukum dan pemberi titah kepada manusia.”

Jika kita baca isi kitab ini bahwa Debata Sori adalah pemberi jalan kehidupan dan penghukum manusia yang salah maka agar manusia jangan jatuh kedalam dosa maka dari kitab ini lahirlah agama batak yang mengajari apa yang boleh diperbuat dan apa yang tidak boleh diperbuat. Dan engkaulah yang membuka mata manusia yang punya baju putih dan kuda putih.

Dasar Agama

Ajaran kepercayaan Ugamo Batak yang diberikan lisan, antara lain : Memuji Tuhan Debata Mulajadi Nabolon – Tuhan Yang Maha Esa, menghormati Raja, sayang sesama manusia, rajin bekerja untuk penghidupan badan (jasmani) dan menuruti perintah Raja. Jangan mencuri, tidak boleh membunuh dan berzinah. Jangan mengolok-olok dan membuat fitnah pada orang lain dan jangan sesatkan orang buta. Tidak boleh mengambil riba dari harta benda dan uang yang dipinjamkan kepada sesama. Jangan sekali-kali memandang hina yang berpakaian buruk dan bertopi karung, sebab Raja Nasiakbagi dan Sisingamangaraja adakalanya mencobai perhatian dari para Parmalim, datang menyamar diri dengan pakaian yang begitu rupa Wajiblah selalu mengucapkan dengan perkataan yang hormat kepada bangsa laki-laki, “Amang” dan kepada bangsa perempuan “Inang”.Memberitahukan dari hal yang bakal terjadi, dan yang bakal kejadian.

Tujuan

Tujuan penghayatan ajaran kepercayaan ugamo batak adalah menuntun, membimbing hidup dan perikehidupan manusia di dunia dan memperoleh kehidupan abadi di akhirat yang disebut “Hangoluan ni tondi di Banua Ginjang”. Patik ni Ugamo Batak adalah ajaran kepercayaan Ugamo malim dan aturan ni Ugamo batak adalah tata upacara pelaksanaan penghayatan dari kepercayaan Ugamo malim. Adalah suatu kewajiban untuk mengakui kesalahan dan dosa, dan memohon keampunan dari Tuhan Yang Maha Esa serta bergiat melaksanakan kebaikan bekal yang banyak untuk kehidupan abadi. Kepercayaan Ugamo Malim, percaya akan adanya kehidupan dunia. Tujuan itu tersirat dalam ajaran patik dalam bahasa batak, disebutkan “Marpanghirimon do namangoloi jala namangulahon patik ni Debata nadapotsa do sogot hangoluan ni Tondi asing ni ngolu ni diri on”, maksudnya adalah “Mereka yang mematuhi dan melaksanakan Hukum Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai harapan kelak memperoleh kehidupan yang abadi selain dari kehidupan dunia ini”.

I. Pengetahuan Tentang Ketuhanan Yang Maha Esa

Mulajadi Nabolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang menjadikan bumi dan langit dengan segala isinya. Tuhan Yang Maha Esa adalah pemilik bumi dan langit, semesta alam yang senantiasa aktif mengatur semua ciptaannya. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia menghuni bumi ini, dan kepada manusia telah dijadikan sumber kehidupan manusia. Kepercayaan Ugamo Malim dan bangsa batak umumnya dalam mengucapkan nama Mulajadi Nabolon harus diawali dengan Ompu atau Ompung. “Ompu Mulajadi Nabolon” atau “Ompung Debata Mulajadi Nabolon”. Mulajadi Nabolon adalah “asal mula” (Mulajadi), “Yang Maha Benar (Mabolon). Sebutan Ompu atau Ompung adalah untuk meluhurkan / memuliakan dalam kedudukan yang “Paling tinggi derajatnya”. Dalam struktur Adat Batak, panggilan “Ompung” diberikan kepada ayah dan ibu dari pada orangtua kita. Panggilan ini sangat didambakan orang batak melalui keturunannya langsung.

a. Kedudukan Tuhan Yang Maha Esa

Disadari dan diyakini, bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu ada dan mutlak, bertempat di Hebangan Panjadion (Singgasana Penciptaan) yang juga disebut Banuwa Ginjang (Tempat Yang Maha Tinggi), dan keberadaannya kekal selama-lamanya. Tonggo-tonggo dalam ugamo malim yang harus diucapkan setiap doa peribadatannya mengajarkan bahwa setiap umat manusia harus bersembah sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa yang menjadikan bumi dan langit dengan segala isinya yang menjadikan manusia dengan segala keberadaannya di bumi ini. Tuhan Yang Maha Esa dalam kedudukannya memberi Rohnya kepada manusia untuk menuntun hidup manusia sesuai dengan kehendaknya. Tuhan Yang Maha Esa memberikan berkat kepada manusia dan semua ciptaannya. Manusia diwajibkan mempersembahkan Puji-pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui persembahan / pelean. Kepada Tuhan Yang Maha Esa manusia memohon keampunan dosa, memohon hiburan bagi yang berduka cita, memohon keringanan atas beban hidup, memohon kesembuhan dari penyakit yang diderita dan memohon kecerahan pikiran bagi yang selalu dibaluti kekalutan, memohon bahwa hidup matinya adalah kehendak-Nya, semoga kelak arwahnya mendapat berkat kehidupan yang kekal di Singgasananya. Ini yang disebut “Tumpal Hangoluan”.

b. Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa

Dari doa ritual (Tonggo-tonggo) kepercayaan Ugamo Malim tersirat, bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah Maha Kuasa, Maha Pemurah, Maha Mengetahui, Maha Pengampun, Maha Adil, Maha Kuat, Maha Bijaksana, Maha Agung dan Maha Mulia.

c. Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa

Atas kuasa dan kehendak Tuhan Yang Maha Esa, telah memberikan Rohnya menitis kepada manusia untuk menjadi pemimpin, pembimbing dan penuntun hidup dan perikehidupan manusia agar berjalan sesuai dengan kehendaknya. Tuhan Yang Maha Esa, Maha menentukan hidup atau Maha bagi segala ciptaannya. Kuasa tersebut pertama diciptakannya di tempat Yang Maha Tinggi (Banua Ginjang), yang terdiri dari :

  1. Bataraguru
  2. Sorisohaliapan
  3. Balabulan

Tiga kuasa ini disebut : Debata Natolu. Tiga kuasa Tuhan Yang Maha Esa adalah paduan kedudukan, sifat-sifat dan kuasa yang mengatur hidup alam semesta ciptaannya.

  1. Hukum Keadilan, Hukum Kerajaan, Kebijaksanaan, Pengetahuan, Keabadian diberikan kepada manusia adalah bersumber dari Bataraguru dilambangkan dengan warna Hitam.
  2. Hukum Kesucian, kebenaran, Kemuliaan diberikan kepada manusia dan dilambangkan dengan warna Putih.
  3. Kekuasaan, Kekuatan, Kesahalaan – Hasaktion (Kesaktian), Pemilik para malaikat, diturunkan kepada manusia dan berada diantara umat manusia, dilambangkan dengan warna Merah.

Dari tempat yang Maha Tinggi, Tuhan Yang Maha Esa mengutus Nagapadohaniaji menguasai Tanah/Bumi dan Boru Saniangnaga menguasai Air. Titisan Kuasa Tuhan Yang Maha esa kepada umat manusia dimuliakan dalam setiap doa ritual kepercayaan ini. Doa ritual (Tonggo-tonggo) tersebut secara berurutan adalah :

  1. Mulajadi Nabolon – Tuhan Yang Maha Esa
  2. Debata Natolu
  3. Siboru Deakparujar
  4. Raja Hatorusan
  5. Nagapadohani Raja)
  6. Boru Saniangnaga
  7. Patuan Raja Uti
  8. Tuhan Simarimbulubosi
  9. Raja Naopatpuluopat (44)
  10. Sisingamangaraja
  11. Raja Nasiakbagi

II. Ajaran tentang Manusia

a. Asal Mula Manusia

Kepercayaan Ugamo Malim mengakui dan mempercayai sesuai dengan mitologi Batak Kuno bahwa asal mula manusia adalah dari hasil perkawinan putera dan puteri dari Banua Ginjang (tempat Yang Maha Tinggi), yaitu Raja Odapodap dengan Boru Deakparujar, yaitu seorang putera dan seorang puteri yang lahir kembar. Setelah mereka dewasa, Tuhan Yang Maha Esa berkenan turun dari banua ginjang untuk menjodohkan mereka menjadi suami istri, dan kepada mereka diberi hidup menghuni bumi ini dengan syarat bahwa mereka harus senantiasa melakukan hubungan dengan Tuhan yang Maha Esa melalui persembahan suci disebut “Pelean” dan dilarang agar tidak memakan daging babi, anjing, darah, dan yang kebangkaian atau yang tercemar uap bangkai. Atas kuasa yang diterima mereka berdua dapat melaksanakan kehendak dan menjauhi larangan Tuhan ini, dan kepada keturunannya “Sabda” ini diteruskan, dan merupakan amanah yang disebut “Tona”. Dalam mitos itu disebutkan bahwa Boru Deakparujar dan raja Odapodap kembali bersama dengan Mulajadi Nabolon ke tempat Yang Maha Tinggi. Akan tetapi karena kecintaan menempatkan Boru Deakparujar di Bulan dan Raja odapodap bertempat di Matahari.

b. Struktur Manusia

Pada awal kehamilan Ibunda Boru Deakparujar disebutkan bahwa yang lahir adalah seperti gumul (bulat). Mulajadi Nabolon menitahkan kepada Boru Deakparujar agar yang lahir nanti harus dikubur karena itulah yang akan menyempurnakan bumi di tempa (ditopa). Rambutnya menjadi tanah liat, tulang-tulangnya menjadi batu-batuan, dan darahnya akan merekat ke bumi ini. Kelahiran yang kedua adalah Raja Ihat Manisia dan Boru Ihat Manisia yang akan menjadi suami istri sebagai awal keturunan manusia. Tondi dan sahala serta akal pikiran manusia menjadi satu dalam wujud jasmani manusia yang terdiri dari darah, gading, ate-ate, pusu-pusu (jantung) adalah merupakan penggerak bagi manusia untuk berkemampuan dalam melaksanakan tugas kehidupan sesuai dengan sabda Tuhan Yang Maha Esa. Secara fisik (daging, tulang dan darah), secara mental yaitu rohani (pikiran), ate-ate (hati), pusu-pusu (jantung), diri (pribadi) dan gogo (kemampuan) ditambah lagi dengan tondi (roh) dan sahala (kharisma), maka manusia adalah ciptaan-Nya dialam semesta ini. Pada hakekatnya manusia masih tetap lemah dan tidak berarti bila dibandingkan dengan Kuasa Tuhan Yang Maha Esa.

c. Tugas dan Kewajiban Manusia

Dengan kesempurnaan penciptaan Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia, tujuannya adalah untuk menghuni bumi ini, dan menyembah kepada-Nya untuk selama-lamanya. Tuhan menyediakan segala kebutuhan hidup manusia pada alam, dan Tuhan memberikan pengetahuan dan kemampuan untuk memanfaatkan alam ini untuk kelangsungan hidupnya. Melaksanakan hukum (kehendak) Tuhan, menyembah dan memuji Nama-Nya dalam keadaan apapun adalah kewajiban manusia. Bahaw hidup dan matinya manusia adalah atas kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Itu disebutkan dengan tegas dalam lapatan ni patik : “Ngolu dohot hamatean Huaso I Debata”. Kewajiban ini diurai dalam aturan-aturan Ugamo Malim dalam kehidupan Parmalim, sejak mulai lahir sampai ajal tiba (kematian) dituntun dalam aturan ini, yaitu :

  1. Martutuaek (kelahiran)
  2. Pasahat Tondi (kematian)
  3. Marari Sabtu (peribadatan setiap hari sabtu)
  4. Mardebata (peribadatan atas niat seseorang)
  5. Mangan Napaet (peribadatan memohon penghapusan dosa)
  6. Sipaha Soda (peribadatan hari memperingati kelahiran Tuhan Simarimbulubosi)
  7. Sipaha Lima (peribadatan hari persembahan pelean kurban)

Selain dari aturan pokok ini, ada lagi aturan yang wajib dilaksanakan sesuai dengan situasinya, yaitu :

  1. Pamasumasuon (pemberkatan dalam perkawinan)
  2. Memandikan jenasah
  3. Manganggir (penerimaan anggota baru)
  4. Marpangir (apabila melalui keadaan yang dinilai kotor, dan bagi wanita yang selesai haid)
  5. Membaca doa bila hendak mandi, memotong hewan, menggali tanah untuk kuburan, dan lain-lain.

Kewajiban lainnya yang utama ialah menata hidup dan perilaku yang luhur dalam pengabdian diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa melalui kepatuhan melaksanakan hukum dalam ugamo Malim yaitu Patik Ni Ugamo Malim. Patik ini memerintahkan manusia untuk selalu menyembah Tuhan, menghormati Raja, mencintai sesama manusia dan giat bekerja. Hasil atau buah dari pekerjaan yang tidak bertentangan dengan larangan Patik Ni Ugamo Malim, dimanfaatkan untuk memuji Tuhan Yang Maha Esa, menghormati Raja dan mencintai sesama manusia.

d. Sikap Terhadap Sesama Manusia

Ajaran kepercayaan Ugamo Malim dalam Patik Ni Ugamo Malim menyebutkan : “Haholongan dongan jolma” artinya adalah kewajiban untuk saling mencintai sesama manusia. Itu dipertegas lagi dalam lapatan Ni Patik yang menyatakan : “Songon holong ni rohaniba didiriniba, songon ima holong ni roha tu dongan” artinya adalah “Bahwa kita wajib mencintai sesama sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Manusia adalah sama derajatnya dan martabatnya terutama dihadapan Tuhan Sang Pencipta. Perbedaan suku, bangsa, daerah, bahasa dan budaya adalah atas kehendak Sang Pencipta. Manusia memandang dirinya secara utuh akan menyadari makna Patik, bahwa pada dasarnya manusia adalah sama. Untuk menumbuhkan rasa sesama manusia, diajarkan dalam kepercayaan Ugamo Malim sebagai berikut “Unang holan diri niba sinarihon, ia naringkot di dongan ndang pinarrohahon”, yang artinya adalah “agar jangan hanya mementingkan diri sendiri, sedangkan kepentingan orang lain diabaikan.” Larangan ini secara lengkap diuraikan dalam Patik Ni Ugamo Malim yang disebut dengan “Pinsang-pinsang (Maminsang)”. Melaksanakan ajaran “Holong” dengan menjauhkan semua larangan-larangan akan mewujudkan “Saling mencintai, mengasihi, menghargai dan saling menghormati” yang akan bermuara kepada “kedamaian dan kesatuan”.

e. Tujuan Hidup Manusia

Kebahagiaan dunia lahir batin adalah suatu cita-cita hidup manusia di alam dunia ini. Beragam usaha dilaksanakan untuk menggapai harapan-harapan ini, namun sampai kapanpun manusia tidak kunjung memperolehnya. Hidup selalu resah, gelisah dan tidak pernah merasa puas. Ajaran kepercayaan Ugamo Malim menetralisir keadaan ini agar hidup bisa menjadi tenang dan menikmati hidup dengan rasa terima kasih (syukur) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa makna dari kehidupan itu adalah penyerahan diri secara utuh kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan akhir dari pada kehidupan manusia adalah kembali menyatu kepada Sang Pencipta.

Kepercayaan Ugamo Malim, menyatakan bahwa tujuan manusia (Parmalim) adalah :

  1. Manopoti dosa dohot mangido pasu-pasu yang artinya adalah memohon keampunan dosa dan memohon berkat dari Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mangalului Hangoluan ni tondi, yang artinya adalah memperbanyak pengalaman dalam hidup untuk kelak menjadi bekal dalam kehidupan yang abadi (di luar kehidupan jasmani ini).
sumber : http://www.silaban.net/2006/05/04/kitab-siraja-batak/
%d blogger menyukai ini: